Category Archives: Abdan

[moments] Kuburan dan Sholat Subuh di Musholla

Standard

Jika akan ke musholla dekat rumah, Abdan biasanya melewati kompleks kecil kuburan keluarga milik tetangga kami. Di kompleks kuburan ini ada sekitar +/- 10-15 kuburan. Letaknya persis dibelakang rumah kami. Jadi, kalau kami membuka pintu belakang, sudah terlihat pemandangan kuburan-kuburan tersebut. Terus terang seumur hidup saya tinggal disini, tidak pernah saya temui kejadian yang aneh-aneh. Walaupun seingat saya semasa kecil kalau saya melewatinya, sering saya tergesa berlari, karena saya takut mendengar cerita ini itu tentang kuburan tersebut dari teman-teman. Atau seringkali sepulang mengaji sore bareng teman-teman, kami lari serempak ketika melewati kuburan tersebut. Kalau sekarang sih, hampir tiap malam buta mesti ke dapur, yg letaknya temboknya bersebelahan persis dgn kompleks kuburan tersebut, untuk mengambil susu Aqilla. Bahkan orang dewasa pun agak enggan lewat jalan tersebut kalau malam, lebih memilih melewati jalan raya untuk ke musholla, walaupun jadi lebih jauh. Yah.. image kuburan lah yaa…

Makanya saya agak terkesima ketika Abdan selalu sholat berjama’ah di musholla melewati jalan tersebut. Entah sholat ashar, magrib, isya bahkan subuh, Abdan berjalan ke musholla. Kadang bersama ayahnya jika ayahnya sudah pulang kerja, atau sendirian. 2 hari berturut-turut kemarin karena ayahnya sedang ke luar kota, abdan berjalan sendirian ke musholla untuk sholat subuh berjama’ah.

Memang saya tidak pernah cerita apa-apa tentang kompleks kuburan itu, jadi abdan ya ga tahu apa-apa. Ya memang ga pernah ada apa-apa juga 😀. Kebetulan juga disini anak seumuran abdan sedikit sekali dan Abdan tidak mengaji di musholla dekat sini, jadi dia juga hampir tidak pernah mendengar cerita apa-apa dari kawan-kawan dirumah. Padahal masih sering saya dengar derap kaki anak-anak tetangga berlari karena ketakutan ketika melewati jalan itu jika mereka akan pergi ke musholla untuk mengaji.

Masya Allah, Alhamdulillah… salah satu rejeki yang patut disyukuri.

Advertisements

[moments] Program di Rumah

Standard
Aisha sedang mengambil cucian bajunya utk di peras

Aisha sedang mengambil cucian bajunya utk di peras

Program cuci baju sendiri lumayan berjalan, walaupun belum se-smooth yang saya harapkan. Anak-anak masih suka menumpuk baju sampai penuh, hingga ketika saatnya mencuci ada rasa enggan melihat tumpukan cucian yang banyak. Program emak berkaitan dengan ini memang belum di lakukan, yakni membuat jadwal cuci baju untuk masing-masing anak dan membuat manual pengoperasian mesin cuci sehingga tidak perlu bolak-balik tanya kepada emak. Tugas emak agar ini dapat dilakukan segera.

Program bangun subuh untuk anak-anak masih jauh dari harapan. Untuk abdan yang terbesar, lebih mudah karena tidak perlu acara angkat ke kursi, lebih mudah dibangunkan dan jalan ke musholla. Walau masih ada hari-hari dimana penuh keterpaksaan sehingga ngomel-ngomel, karena masih ngantuk.

Aisha dan Aqilla yang membuat emak bapak agak mundur dan tak konsisten. Selain ketika dibangunkan penuh dengan acara nangis-nangis, juga untuk mengangkat mereka lumayan butuh effort yang bikin emak bapak agak susah memelihara konsistensi. Pe er emak mencari lagi metode bangun subuh yang lebih efektif

Abdan : Mengumpulkan Uang Saku

Standard
edit packing list

Daftar Hutang saya ke Abdan 😀

Kemarin ini Abdan ingin sekali membeli sesuatu. Ia ingin mengumpulkan uang untuk membelinya. Dia menanyakan kepada saya apakah boleh jika ia melakukan pekerjaan di rumah, ia mendapat bayaran. Tapi saya pikir setiap pekerjaan di rumah yang biasa dia kerjakan, seperti membuang sampah, menyapu halaman atau mencuci piring bekas makannya adalah sesuatu yang seharusnya dia lakukan karena dia adalah salah satu penghuni rumah ini yang juga punya kewajiban yang sama semampunya untuk bersama-sama merawat rumah ini. Rasa-rasanya kok kurang sreg yah kalau dengan melakukan itu dia harus mendapat bayaran walaupun memang ada sisi baiknya.

Saya mencari-cari ide apa ya kira-kira yang bisa dilakukan Abdan supaya dia bisa mendapatkan “penghasilan”. Saya tanya ke ayahnya, mumpung Abdan liburan apakah ada pekerjaan di kantor yang bisa dilakukan Abdan. Tapi dengan kemampuan Abdan sekarang paling hanya bisa menjadi asisten Office Boy di kantor, itu pun pekerjaannya tidak banyak karena kantor ayahnya hanya kantor kecil yang terdiri dari sedikit orang saja. Apa ya yang bisa dilakukan Abdan…

Akhirnya ketemu juga ide, Alhamdulillah… Abdan saya berdayakan (atau perdayakan yak, hihihi… :D) untuk membantu membungkus dagangan jualan online saya. Untuk setiap bungkus Abdan dapat bayaran Rp. 3000. Pekerjaan membungkus alhamdulillah tidak terlalu berat karena yang dibungkus hanya baju-baju dan tidak ada barang-barang yang memerlukan penanganan terlalu khusus. Tentu saja saya selalu mengawasi dan membantu. Alhamdulillah, setiap 1-2 hari ada saja order membungkusnya. Abdan membuat catatan sendiri untuk pekerjaan bungkus-membungkusnya sebagai catatan tagihan kepada emaknya nanti. Tidak hanya membantu membungkus, Abdan juga selalu mendoakan supaya dagangan saya banyak yang beli sehingga order membungkusnya makin banyak juga, hihihi… simbiosis mutualisme 😀

Najis

Standard

najisKata ini menelikungkan ingatan saya kepada kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika almarhum bapak saya masih ada. Waktu itu abdan masih berusia sekitar 4-5 tahun. Abdan senang sekali bermain air di kamar mandi, seperti anak-anak pada umumnya. Kadang gayung, ditaruh di lantai kamar mandi, di isi air, di aduk-aduk. Plastik, atau kadang baju di taruh dilantai kamar mandi, main cuci baju, dan sebagainya. Saya khawatir gayung atau baju atau apapun yang sedang dimainkan di lantai langsung dimasukkan ke bak mandi. Nanti air di bak mandi akan terkena najis dari apapun yang dia mainkan di lantai kamar mandi. Jadi, seringkali saya katakan padanya jangan langsung memasukkan apa yang habis dia mainkan di lantai kamar mandi ke bak mandi. Di basuh dulu dengan air, baru boleh. Hal ini sering saya ulang-ulang. Otomatis lah, ketika melihat dia main air, pasti itu yang saya ingatkan.

Suatu hari, saya dengar kakeknya abdan (alias bapak saya) berargumen dengan Abdan di kamar mandi. Terdengar Abdan menangis. Keluar dari kamar mandi, bapak saya bilang, “Anak kamu tuh, kok ngeluarin kata-kata yang ga bagus gitu.. diajarin dong.. masa bapak dibiilang (dimaki) najis.” Saya menanyakan kepada Abdan apa yang diomongkan tadi ke kakeknya. Sambil menangis Abdan menjelaskan bahwa dia bilang ke kakeknya bahwa, tidak boleh memasukkan sesuatu ke bak kamar mandi, sebelum di basuh dulu, karena nanti najis. Mungkin karena penjelasan abdan yang masih terbatas dan sambil teriak karena menangis, dianggap kakeknya bahwa Abdan memaki beliau dengan najis. Kakeknya juga tidak tahu kalau saya sudah mengajarkan kepada Abdan tentang najis. Hihihi.. salah paham ternyata. Abdan tahu tentang  najis ya sebatas itu saja, sedangkan bapak saya sudah memahami pemanfaatan kata najis yang sudah lebih “kretif”*, untuk mengumpat orang.

*kreatif dalam tanda kutip lho ya 😉

Kenapa Surat Al Alaq Bukan Surat Pertama di Al-Qur’an Bunda?

Standard

Seusai sholat magrib Abdan berlatih membaca Al Quran bersamaku. Aku teringat tentang surat Al Alaq yang sudah tamat di hapalnya. Meluncurlah percakapan ini dengan Abdan.

Aku : “Kakak tahu tidak artinya surat Al Alaq yang kemarin sudah kakak hapal?

Abdan : Itu kan surat pertama yang turun ya Bunda?

Aku : “Iya, disitu Allah memperkenalkan siapa Allah itu. Allahlah yang menciptakan manusia.”

Abdan : “Kenapa sih Bun, surat Al Alaq itu tidak diletakkan yang pertama, kan itu yang turun pertama. Kok malah Al Fatihah?”

Aku : “Karena Al Quran itu kan buku ilmu. Susunannya itu seperti buku. Kakak pernah lihat buku kan ada pembukaan, isi, terus kesimpulan atau penutup. Kakak tahu tidak artinya Al Fatihah? coba lihat deh di Qur’an. Artinya pembukaan kan? Nah, disitu ada inti dari Al Qur’an itu. Seperti Allah Ar Rahman dan Ar Rahim. Itu kan menjelaskan siapa Allah itu, terus Ihdinā -ṣ-ṣirāṭa -l-mustaqīm, kita harus meminta kepada Allah untuk di tunjukkan jalan yang lurus itu.

Raut wajahnya kelihatan berpikir.

Abdan : “Tapi kok ga ada surat penutup bun? Eh, tapi kalo ngobrol terus nanti kelamaan baca Al Qur’annya, Bun..”  😀

Aku : Ha.. ha.. ha.. Iya ya, ya udah yuk baca..”

Gambar : http://www.alquranclasses.com