Najis

Standard

najisKata ini menelikungkan ingatan saya kepada kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika almarhum bapak saya masih ada. Waktu itu abdan masih berusia sekitar 4-5 tahun. Abdan senang sekali bermain air di kamar mandi, seperti anak-anak pada umumnya. Kadang gayung, ditaruh di lantai kamar mandi, di isi air, di aduk-aduk. Plastik, atau kadang baju di taruh dilantai kamar mandi, main cuci baju, dan sebagainya. Saya khawatir gayung atau baju atau apapun yang sedang dimainkan di lantai langsung dimasukkan ke bak mandi. Nanti air di bak mandi akan terkena najis dari apapun yang dia mainkan di lantai kamar mandi. Jadi, seringkali saya katakan padanya jangan langsung memasukkan apa yang habis dia mainkan di lantai kamar mandi ke bak mandi. Di basuh dulu dengan air, baru boleh. Hal ini sering saya ulang-ulang. Otomatis lah, ketika melihat dia main air, pasti itu yang saya ingatkan.

Suatu hari, saya dengar kakeknya abdan (alias bapak saya) berargumen dengan Abdan di kamar mandi. Terdengar Abdan menangis. Keluar dari kamar mandi, bapak saya bilang, “Anak kamu tuh, kok ngeluarin kata-kata yang ga bagus gitu.. diajarin dong.. masa bapak dibiilang (dimaki) najis.” Saya menanyakan kepada Abdan apa yang diomongkan tadi ke kakeknya. Sambil menangis Abdan menjelaskan bahwa dia bilang ke kakeknya bahwa, tidak boleh memasukkan sesuatu ke bak kamar mandi, sebelum di basuh dulu, karena nanti najis. Mungkin karena penjelasan abdan yang masih terbatas dan sambil teriak karena menangis, dianggap kakeknya bahwa Abdan memaki beliau dengan najis. Kakeknya juga tidak tahu kalau saya sudah mengajarkan kepada Abdan tentang najis. Hihihi.. salah paham ternyata. Abdan tahu tentang  najis ya sebatas itu saja, sedangkan bapak saya sudah memahami pemanfaatan kata najis yang sudah lebih “kretif”*, untuk mengumpat orang.

*kreatif dalam tanda kutip lho ya😉

About Rika

Bunda 3 anak yang mudah-mudahan selalu bersemangat belajar. Sedang hobi memasak, terutama memasak kue. Suka membaca dan menulis. Saat ini, sedang berusaha bergulat menyeimbangkan antara pekerjaan rumah sehari-hari tanpa asisten rumah tangga dan meng-home education-kan ketiga anaknya, Abdan Syakuro, Aisha Ain Al Saba dan Aqilla Ibtihal Imani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s