Monthly Archives: June 2013

Belajar Yuk Dek…

Standard

Pagi-pagi menangkap basah mereka sedang belajar sendiri. Aisha mengajarkan Aqilla menggambar. Terdengar suara mereka bersama bernyanyi :

Lingkaran kecilbelajar yuk De..
Lingkaran kecil
Lingkaran besar
Ada hidungnya
Ada mulutnya
Ada kupingnya
Enam.. Enam.. berliku-liku
Enam.. Enam.. jadi boneka

Advertisements

Najis

Standard

najisKata ini menelikungkan ingatan saya kepada kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika almarhum bapak saya masih ada. Waktu itu abdan masih berusia sekitar 4-5 tahun. Abdan senang sekali bermain air di kamar mandi, seperti anak-anak pada umumnya. Kadang gayung, ditaruh di lantai kamar mandi, di isi air, di aduk-aduk. Plastik, atau kadang baju di taruh dilantai kamar mandi, main cuci baju, dan sebagainya. Saya khawatir gayung atau baju atau apapun yang sedang dimainkan di lantai langsung dimasukkan ke bak mandi. Nanti air di bak mandi akan terkena najis dari apapun yang dia mainkan di lantai kamar mandi. Jadi, seringkali saya katakan padanya jangan langsung memasukkan apa yang habis dia mainkan di lantai kamar mandi ke bak mandi. Di basuh dulu dengan air, baru boleh. Hal ini sering saya ulang-ulang. Otomatis lah, ketika melihat dia main air, pasti itu yang saya ingatkan.

Suatu hari, saya dengar kakeknya abdan (alias bapak saya) berargumen dengan Abdan di kamar mandi. Terdengar Abdan menangis. Keluar dari kamar mandi, bapak saya bilang, “Anak kamu tuh, kok ngeluarin kata-kata yang ga bagus gitu.. diajarin dong.. masa bapak dibiilang (dimaki) najis.” Saya menanyakan kepada Abdan apa yang diomongkan tadi ke kakeknya. Sambil menangis Abdan menjelaskan bahwa dia bilang ke kakeknya bahwa, tidak boleh memasukkan sesuatu ke bak kamar mandi, sebelum di basuh dulu, karena nanti najis. Mungkin karena penjelasan abdan yang masih terbatas dan sambil teriak karena menangis, dianggap kakeknya bahwa Abdan memaki beliau dengan najis. Kakeknya juga tidak tahu kalau saya sudah mengajarkan kepada Abdan tentang najis. Hihihi.. salah paham ternyata. Abdan tahu tentang  najis ya sebatas itu saja, sedangkan bapak saya sudah memahami pemanfaatan kata najis yang sudah lebih “kretif”*, untuk mengumpat orang.

*kreatif dalam tanda kutip lho ya 😉