Bunda, Tentukan Tujuanmu!

Standard

momSembari mencuci piring, pikiran saya mengembara. Saat mencuci piring adalah saat-saat kaya inspirasi bagi saya. Banyak pikiran melintas, memikirkan hal-hal yang terlalu sibuk untuk saya pikirkan ketika saya melakukan hal yang lain. Dan banyak dari hal yang saya pikirkan ketika mencuci piring, menimbulkan ide yang saya pikir harus saya tulis, karena saya anggap ide itu penting (untuk saya) dan saya tidak ingin lupa. Semoga dengan menuliskannya, ide itu tidak akan hilang tak berbekas, seperti busa cuci piring yang saya bilas🙂.

Di cuci piring kali ini, saya memikirkan tentang diri saya sendiri. Namun rasa-rasanya apa yang saya alami banyak dialami oleh ibu-ibu lain. Saya ini ibu rumah tangga yang dulunya pernah bekerja kantoran, full time, jam 8 pagi – 5 sore. Or in my case, karena dulu sering telat, 9 pagi -7 malam atau kadang, 9.30 pagi – 8, 9 malam, hihihi… Dulu ketika kadang harus lembur, dan sering merasakan penat, yang saya pikirkan adalah, “What am i doing here? I should be home with my children!” dan pikiran-pikiran seperti itu sering mendera saya, memupuk rasa bersalah dengan sukses, hingga akhirnya saya mengambil keputusan, I think it’s time for me to quit my job and be with my children. Satu hari, dengan segala keberanian diri yang dihimpun setelah sekian lama, saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya. Pekerjaan yang telah memberikan banyak sahabat,  pengalaman hidup yang indah namun menantang, serta gaji yang lumayan😀. Thus, I began my journey as a house wife, only a house wife.

Setelah resign, saya pikir, rasanya saya harus punya usaha sendiri. Terus terang, gaji saya selama ini juga dipakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau saya tidak berpenghasilan, saya khawatir gaya hidup kami yang selama ini akan berubah. Berubah lebih borju sih ga keberatan, hihihi… asal jelas ya, asal usul penghasilannya. Repot juga ntar kalau ditelusuri PPATK karena profil keuangannya kok ga wajar, hahahaha… padahal baru resign dan suami cuma pengusaha yang bergaji tetap😀. Nah, yang saya khawatirkan adalah bila gaya hidup berubah menurun. Ya.. rasa-rasanya sedih juga. Terutama untuk anak-anak. Saya mengendus juga kalau suami rasa-rasanya punya kekhawatiran yang sama. Plus perasaan saya yang masih diliputi gengsi, ibu rumah tangga yang ga punya usaha gimana gitu loh.. kan sering ditanya, cuma ibu rumah tangga doang? aktivitasnya apa sekarang? whew.. okey, saya pun berpikir, saya harus punya usaha. Thus, I began my journey as a house wife plus plus😀.

Pertama kali saya resign, saya usaha berjualan bubur bayi fresh. Bisa dibilang saya franchise, beli bubur bayi fresh dari dapurnya untuk dijual lagi dengan tetap menggunakan merk bubur bayi tersebut. Jam 5 subuh saya harus ambil bubur bayi itu di dapurnya di cimanggis, dan menjualnya di depan rumah adik saya. Jadi setiap hari jam 5 subuh sampai sekitar jam 7 pagi aktivitas saya mengurusi jualan bubur bayi. Bisa dibayangkan di waktu prime time ibu-ibu, karena waktu pagi adalah waktu sibuk ibu-ibu, saya harus mengurusi jualan plus mengurusi anak dan suami yang harus pergi sekolah dan kerja. Harap di catat, semua tanpa asisten rumah tangga. Aktivitas ini berlangsung beberapa bulan. Pada satu titik saya pernah berpikir, “ngapain ya kok gue nyiksa diri gini.. kenapa gue ga ngurusin anak-anak dan rumah aja sih?”
Hmm…  ya… akhirnya usaha bubur itu pun berakhir. Salah satunya adalah karena apa yang saya pikirkan itu, plus kendala-kendala lain juga.

Dari situ saya berpikir, saya harus punya bisnis lain nih.. yang tidak terlalu menyita fisik dan tidak banyak meninggalkan rumah. Karena saya punya akses internet di rumah, mulailah saya berjualan baju muslim. Punya toko online. Enak sih.. tinggal upload foto, jawab comment customer yang tertarik dan order, atau tanya-tanya via sms atau chatting. Kalau deal, bungkus lalu kirim. Awal-awal toko online masih sepi, jadi saya masih bisa asyik mengatur waktu antara kerjaan rumah dan bersama anak-anak. Ketika bulan Ramadhan, tiba-tiba toko online menjadi super sibuk. Para supplier banyak mengeluarkan produk baru, sehingga lumayan banyak foto yang harus saya upload. Upload foto, memberi keterangan pada foto, banyak sekali menyita waktu. Menjawab pertanyaan para customer via sms, chatting bahkan ada juga yang menelepon. Beberapa kali saya harus begadang mengupload foto jualan sampai jam 1-2 malam. Terus terang saya bersemangat sekali, hingga laptop, tablet dan HP menjadi suami kedua yang lebih sering saya tatapi dibandingkan suami pertama saya yang tercinta. Anak-anak pun lebih sering main sendiri, dan saya cuma ingin asyik dengan jualan saya sendiri. Lebaran kali itu, memang saya mendapatkan untung yang lumayan, dan saya merasa senang dan berpikir bahwa saya lumayan berhasil lah….

Dari situ, saya terus berusaha mencari supplier yang lain sehingga yang saya jual lebih banyak dan bervariasi. Kebanyakan saya mencari supplier via online , yang bisa makan waktu berjam-jam di depan laptop. Upload foto, makan waktu berjam-jam pula. Saya mulai membuka toko online di socmed lain, sehingga saya punya dua toko online yang harus saya maintain. Satu saat saya menemukan supplier yang cocok sekali koleksinya dengan para customer saya. Sehingga, masa itu pun rasanya seperti lebaran. Saya sibuk dengan jualan saya, dan mengesampingkan anak dan rumah. Mengerjakan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu sekedarnya saja, sekedar rapi ketika suami pulang, menjawab sekedar agar anak-anak diam ketika mereka bertanya sesuatu. It’s like, I am here but not here. Because I’m stuck with my computer, with my tablet, with my mind..  sibuk memikirkan harus cari model baru lagi, supplier baru lagi, so on.. so on..  Padahal, alhamdulillah gaya hidup tidak berubah, dan saya yakin bukan karena kontribusi penghasilan dari jualan saya. Karena, suami bilang, uang jualan jangan diambil. Kalau kamu butuh sesuatu, bilang suamimu.. bilang doang.. tapi ga dibeliin hahahaha… Engga ding, sepanjang ini yang saya butuhkan selalu dipenuhin olehnya, Alhamdulillah. Tapi, inikah yang saya mau? Inikah tujuan saya?

Ternyata walaupun dirumah, tapi saya sibuk. Sibuk dengan hal yang saya tahu seharusnya bukan prioritas saya. Saya sadar apa prioritas saya. Tugas saya yang pertama dan utama adalah sebagai pendidik anak-anak. Seharusnya saya sibuk menyiapkan dan memikirkan hal-hal apa yang harus saya ajarkan kepada anak-anak, berusaha mencari dan menyusun kurikulum pendidikan anak-anak (terutama aisha yang homeschool), and just be there for the children. Saya harus ada, baik fisik dan pikiran, untuk menjawab pertanyaan mereka dengan sepenuh hati, menemani mereka belajar dan bermain, mengajarkan mereka hal-hal yang seharusnya diajarkan kepada mereka. But, where have I gone?

Hal-hal yang saya tahu harus jadi prioritas saya, adalah hal-hal yang mudah saya singkirkan dalam keseharian. Entah dengan aktivitas jualan atau dengan kesibukan mengurusi pekerjaan rumah. Semudah apa? semudah ketika saya berkata, “Nanti, bunda lagi dikomputer nih..” ketika mereka ingin dibacakan satu buku, atau “Sebentar… Bunda lagi tanggung ngepel nih” ketika mereka dengan antusias memanggil-manggil untuk memperlihatkan hasil karyanya yang sudah susah payah dibuat, atau menjawab dengan “Ga tau” ketika mereka menanyakan sesuatu yang saya tahu saya bisa menemukan jawabannya di internet, hanya karena saya terlalu sibuk bebenah atau sibuk jualan untuk menemani mereka mencarinya di Google. Hmmm… rasanya.. pastinya.. saya sudah melakukan kesalahan.

Saya pikir, saya harus mengambil keputusan. Saya ini mau berperan sebagai apa? sebagai ibu sambil berbisnis atau berbisnis sambil jadi ibu? sebagai ibu yang utamanya menjadi pendidik atau ibu yang utamanya sebagai pengurus kebersihan dan kerapihan rumah saja?
Saya tahu pilihan saya, karena itulah alasan utama saya mengundurkan diri dari pekerjaan tetap saya dulu. Tapi sekarang fokus saya teralihkan oleh aktivitas berbisnis saya, yang memang memakan waktu yang lumayan. Semakin saya seriusi, semakin banyak waktu tersita, dan hanya menyisakan sedikit waktu untuk yang seharusnya jadi prioritas saya. Yang saya rasakan seperti itu, mungkin karena jualan ini masih skala kecil dan hanya saya sendiri yang mengerjakan. Tapi kalau saya berniat membesarkan bisnis ini, berapa lama lagi.. berapa jam lagi, waktu yang dihabiskan untuk itu? Lalu, jika memang bisnis itu sudah besar nanti.. mungkin bertahun-tahun kedepan, untuk apa lagi mendidik anak-anak yang sudah besar dan dewasa, ketika mereka sudah tahu sendiri, punya pikiran sendiri dan mengambil keputusan sendiri. Keputusan dan pemikiran yang bisa jadi berlandaskan nilai-nilai yang tidak seharusnya mereka pegang. Dan sayalah yang bersalah, karena seharusnya sayalah yang menanamkan benih nilai-nilai yang seharusnya mereka pegang itu sejak dini. Dan saya jugalah yang akan ditanya di padang mahsyar nanti, apa-apa yang menjadi tanggung jawab saya, terutama pendidikan anak-anak saya. Takuuuuttt…..

Maka saya menetapkan hati. Bisnis ini, jualan ini, adalah sampingan saya. Keuntungannya saya ambil untuk menyokong tujuan utama saya.  Keuntungannya tidak menjadi laba ditahan yang di akan diputar terus, karena bisnis ini tidak saya niatkan untuk menjadi besar, setidaknya untuk saat ini, saat dimana tujuan dan prioritas utama saya adalah bukan bisnis itu. Saya harus fokus dan bersungguh-sungguh meraih tujuan utama saya. Anak-anak adalah produk saya yang utama, produk didikan saya yang harus dipertanggung jawabkan kelak. Dan semoga, ketika nanti Allah mempertanyakannya di padang mahsyar, saya tidak akan menjawabnya dengan tertunduk lesu atau terbata.

About Rika

Bunda 3 anak yang mudah-mudahan selalu bersemangat belajar. Sedang hobi memasak, terutama memasak kue. Suka membaca dan menulis. Saat ini, sedang berusaha bergulat menyeimbangkan antara pekerjaan rumah sehari-hari tanpa asisten rumah tangga dan meng-home education-kan ketiga anaknya, Abdan Syakuro, Aisha Ain Al Saba dan Aqilla Ibtihal Imani.

2 responses »

  1. Subhanallah maak..tersindar sindir aku membacanya..mungkin karena dibaca diantara jam kerja ya..hahahhaa..apapun dimanapun hati, pikiran dan harapan kita sepenuhnya milik allah dan amanah terbesar para istri dan ibu adalah suami dan anak-anak..thanks banget untuk coretannya, selamat berkiprah..semoga tetep semangat dan selalu amanah,.amiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s