Belajar Bersabar

Standard

Hari ini kami berencana untuk ke toko buku Gramedia. Tempat pensil Abdan sudah rusak dan dia minta dibelikan yang baru. Kami berangkat dengan 4 anak, karena Syamil, sepupunya juga ikut. Tujuan kami adalah Gramedia Depok yang dapat kami capai dengan satu kali naik angkot.

Dulu sebenarnya kami enggan untuk jalan-jalan bareng full tim seperti sekarang ini. Kami pikir betapa repotnya membawa semua anak pergi dengan kendaraan umum. Anak-anak mudah rewel karena gerah dan lamanya perjalanan. Jika naik taksi, bisa-bisa anggaran jalan-jalan habis hanya untuk ongkos taksi saja. Dulu berpikir ingin sekali punya mobil sendiri, jadi perjalanan bisa lebih nyaman dan menyenangkan.

Terus-terang aku heran dengan orang tuaku dulu. Rasanya seingatku hampir tiap minggu kami berjalan-jalan sekeluarga dengan 3 anak juga, minimal berenang ke TMII, dengan naik angkot. Ketika aku tanyakan kepada mamah, dia menjawab, “Ya memang kondisinya seperti itu, tidak ada mobil. Nanti kalau nunggu punya mobil bisa-bisa anak-anak ga pernah jalan-jalan.” Dan memang kenyataannya hingga anak-anaknya besar mamah dan bapak tidak bisa membeli mobil. Coba bayangkan, kalau mamah dan bapak berpikir seperti kami sekarang, mungkin memori senangnya berjalan-jalan berenang tidak akan ada di otakku.

Lama-kelamaan aku belajar menerima kenyataan bahwa kami memang belum mampu untuk punya mobil sendiri. Dan itu tidak boleh menghentikan kami untuk bersenang-senang pergi berjalan-jalan bersama anak-anak. Maka aku menyiapkan kondisi mentalku untuk bersabar menghadapi kondisi rewel anak-anak. Aku juga berpikir pengalaman seperti ini perlu untuk anak-anak. Mereka bisa belajar untuk menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan untuk mereka, belajar bersabar dan mempertahankan kesabarannya. Lagipula, mereka butuh kenangan ini, karena bisa jadi ketika mereka nanti menjadi pemimpin yang punya kuasa merubah kondisi bangsa, memori ini yang akan membuat mereka melakukan perubahan akan kondisi transportasi umum di negara ini. Memori ini juga yang akan membuat mereka merasakan perjuangan sebagai orang yang “terbatas”, terbatas dari akses berkehidupan yang nyaman karena kondisi keterbatasan uang.

Sebelum kami berangkat, aku membuat perjanjian dengan anak-anak bahwa nanti di Gramedia anak-anak hanya membeli satu barang saja. Ini untuk mencegah anak-anak rewel kalau nanti mereka meminta barang yang lebih dari yang di janjikan. Aku juga membuat perjanjian bahwa anak-anak nanti harus bersabar dan tidak rewel selama dalam perjalanan.

Untuk naik angkot ke Depok, kami harus berjalan ke pangkalannya di Pasar Pal yang jaraknya kurang lebih 200 m. Kami berjalan kaki beriringan menuju kesana. Aku menggendong Aqilla, suamiku menggandeng Syamil dan Ais. Abdan berjalan sendiri sambil diawasi. Cuaca cerah, matahari agak terik menyinari. Ketika sampai di Pasar Pal, kami berhenti untuk membeli es teh manis sambil beristirahat sebentar. Bepergian dengan anak-anak memang harus banyak rehat supaya mereka tidak merasa perjalanan ini panjang, melainkan hanya merasakan beberapa perjalanan kecil. Sambil anak-anak yang lain minum es teh manis, aku dan Ais mampir sebentar ke dalam pasar untuk membeli sendal baru untuk Ais karena sendal yang digunakan ujungnya rusak. Ais memilih sendal berwarna ungu bergambar Shaun the Sheep. Setelah selesai, kami pun melanjutkan kembali perjalanan dengan naik angkot.

image

Di angkot, anak-anak duduk dengan asyik sambil menghabiskan es teh masing-masing. Syamil terlihat mengantuk karena duduk di dekat pintu dan terkena angin. Tidak lama kemudian dia tertidur di pangkuan suamiku. Sepanjang perjalanan kami mengobrol. Anak-anak banyak menanyakan hal-hal yang dilihatnya selama di perjalanan. Setelah sekitar 20 menit akhirnya kami sampai di tempat yang kami tuju. Syamil tidak ngambek ketika dibangunkan.

Anak-anak terlihat senang sekali. Kami memutuskan untuk menuju basement Gramedia dulu untuk melihat-lihat buku-buku yang sedang diskon. Anak-anak melihat-lihat buku mana yang kira-kira mereka suka. Aisha melihat buku bergambar telinga dan menanyakan kepadaku apa judulnya. “Telingaku sehat” kataku. “Wah, boleh ga bunda beliin buku ini buat Ibram? (adiknya Syamil). Kemaren kan Ibram sakit telinganya.” Aku mengangguk membolehkan. Aku juga melihat ada buku flip the flap tentang musim yang bagus dan tentu saja murah. Abdan memilih buku TTS bahasa inggris yang menurutnya seru. Dia mengantri di kasir dan membayar sendiri buku yang dibelinya. Syamil tiba-tiba rewel minta dibelikan fanta dingin ketika melihatnya dilemari pendingin minuman ringan yang ada disitu. Kami membelikan satu botol untuknya dan memintanya untuk berbagi dengan yang lain. Setelah selesai, kami menuju ke lantai satu untuk mencari tempat pensil buat Abdan.

image

Di lantai ini penuh dengan perlengkapan alat tulis yang lucu-lucu. Aisha tertarik untuk membeli satu set alat tulis berwarna pink yang harganya lumayan mahal. Aku minta Aisha melihat-lihat yang lain sebelum menentukan pilihannya. Abdan memilih tempat pensil bergambar Angry Bird. Melihat kakaknya memilih tempat pensil, Aisha dan Syamil juga memilih yang sama. Aisha memilih yang bergambar Tom n Jerry sedangkan Syamil memilih yang bergambar Batman.

Kami menuju lantai 2 untuk melihat-lihat buku. Aqilla senang sekali naik eskalator sampai aku harus 2 kali bolak-balik naik. Sampai di lantai 2 anak-anak sibuk berlari-larian bercanda-canda. Aku melihat-lihat buku yang menarik sambil mengawasi anak-anak. Tiba-tiba Aisha dan Aqilla berhenti di sampingku. Rupanya Aqilla menangis meminta untuk memakai sendal Ais yang baru karena ia suka dengan gambar shaun the sheepnya. Aisha tidak mau memberikan. Aku membujuk supaya Aisha mau sebentar saja meminjamkan sendalnya dan untuk sementara memakai sendal yang lama. Aisha tidak mau dan mulai menangis juga. Aku terus membujuk Aisha sambil menjelaskan kalau Aqilla masih sulit diberikan pengertian untuk mengalah. Aisha nampaknya khawatir Aqilla tidak akan mengembalikan sendalnya. Setelah aku mengiyakan untuk membelikan lagi yang baru jika Aqilla tidak mengembalikan, akhirnya Aisha mau meminjamkannya. Aku memeluknya dan mengucapkan terima kasih sudah mau mengalah. Tak lama Aisha malah asyik bermain perosot-perosot di lantai dengan sendalnya karena sendalnya yang lama lebih licin.

Syamil meminta kepadaku untuk dibelikan pensil. Aku mengingatkan tentang perjanjian kami bahwa hanya akan membeli satu barang saja. Syamil bertanya kenapa. Aku menjelaskan sambil bercanda kalau nanti Syamil harus membayar pensilnya dengan membantu mengepel toko karena aku tak ada uang untuk membayarnya. Syamil tertawa dan akhirnya lupa akan permintaannya dan asyik lagi main dengan saudara-saudaranya.

image

Setelah tempat pensil dibayar kami pun pulang. Aqilla tertidur di gendongan ayahnya. Kami menaiki angkot menuju arah pulang. Di perjalanan Aisha dan Syamil tertidur. Kami berkata bahwa tidak apa-apa jika mau tidur. Tapi nanti jika sampai harus bangun. Ketika angkot sudah sampai di pangkalan aku membangunkan Syamil dan Aisha. Mereka bangun dan kami berjalan kaki menuju rumah. Di jalan, Aisha meminta untuk dibelikan minuman. Akhirnya kami membeli 2 botol minuman. Tidak lupa aku meminta mereka untuk berbagi dengan yang lain.

Alhamdulillah kami sampai di rumah dengan selamat. Capek, tapi tidak bete. Perjalanan kami pun alhamdulillah menyenangkan dan tidak ada kendala yang berarti. Mudah-mudahan perjalanan ini bisa terukir menjadi kenangan yang indah bagi anak-anak, seperti kenangan indah yang kumiliki ketika aku masih kecil dulu.

image

About Rika

Bunda 3 anak yang mudah-mudahan selalu bersemangat belajar. Sedang hobi memasak, terutama memasak kue. Suka membaca dan menulis. Saat ini, sedang berusaha bergulat menyeimbangkan antara pekerjaan rumah sehari-hari tanpa asisten rumah tangga dan meng-home education-kan ketiga anaknya, Abdan Syakuro, Aisha Ain Al Saba dan Aqilla Ibtihal Imani.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s