You Stuck With It, So Deal With It!

Standard

image

Saya sendiri sering mengatakan, menjadi orang tua adalah hal yang sulit. Setelah banyak membaca, banyak tahu, semua menjadi lebih sulit. Sudah ada gambaran ideal bagaimana seharusnya orang tua itu, dan betapa jauh rasanya saya menjadi sosok itu. Menjadi sosok orang tua yang baik merupakan proses belajar yang tiada henti bahkan dari menit ke menit. Dan saya sadar, saya banyak melakukan kesalahan, bahkan berulang. Dan seringkali ketika saya berbuat kesalahan, saya frustasi, dan saya merasa saya bukan orang tua yang baik. Bahkan dalam pelarian di pikiran saya, mungkin lebih baik jika saya bekerja lagi saja, dan tidak mengambil peran sebagai orang tua begitu besar seperti sekarang ini. The stupid and giving up part of me.

The thing is, ga ada yang namanya “part time parent”.  Entah apakah orang tua itu bekerja atau tidak, tanggung jawabnya tidak berkurang sedikit pun. Harus memikirkan mau seperti apa anak-anak kelak, dan bagaimana cara mendidiknya sehingga bisa mencapai itu. Masing-masing kita, sesuai kondisi masing-masing, harus mencari jalan dan cara semampu kita bagaimana agar tujuan itu berhasil. Bahkan dari menit ke menit, literally! Terlalu kasar mungkin untuk mengatakan, you stuck with it, so you have to deal with it!” Tapi saya rasa itulah kenyataan. Kita harus sadar akan kenyataan itu, saya harus sadar akan kenyataan itu, maka saya harus mencari cara bagaimana mengatasi rasa frustasi saya, sehingga saya bisa mencapai tujuan.

Belajar merupakan proses yang sulit dan panjang. Kita sedang mencoba untuk mengetahui sesuatu yang kita buta sama sekali tentang itu supaya kita menjadi tahu. Setelah tahu kita harus berusaha untuk melakukannya dan setelah berhasil melakukannya kita melatih diri untuk konsisten melakukannya. Maka terimalah fakta bahwa kita pasti berbuat kesalahan.  Hadapi, perbaiki, then move on. Tidak perlu beromantisme dalam frustasi, apalagi keputus asaan. You just got to, and need to, move on.

Jadi, ketika saya nanti lepas diri dan marah ketika Aisha tidak juga mengeja dengan benar, stop. Berhenti marah. Pelankan volume suara, rendahkan. Pikirkan bahwa Aisha sedang belajar. Ia butuh waktu. Bahkan mungkin harus mencoba cara lain. Mintalah maaf karena sudah terlanjur marah. Maaf ya Ais, bunda marah. Bunda lagi belajar mengatasi marah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s