Monthly Archives: May 2012

Belajar Warna dengan Gantungan Baju

Standard

Ketika saya menjemur pakaian tadi pagi, saya lihat Aqilla sedang asyik bermain dengan gantungan baju yang sengaja saya gantungkan di jemuran. Timbul ide untuk mempergunakan ini sebagai sarana belajar tentang warna yang memang sedang Aqilla pelajari saat ini.

Saya minta agar Aqilla memindahkan gantungan baju yang berwarna hitam dari jemuran yang bawah ke jemuran yang atas. Ternyata dia antusias dan menganggapnya sebagai permainan yang menyenangkan. Berikut video yang sempat saya rekam di tengah-tengah permainan gantungan baju tersebut :).

Belajar Bersabar

Standard

Hari ini kami berencana untuk ke toko buku Gramedia. Tempat pensil Abdan sudah rusak dan dia minta dibelikan yang baru. Kami berangkat dengan 4 anak, karena Syamil, sepupunya juga ikut. Tujuan kami adalah Gramedia Depok yang dapat kami capai dengan satu kali naik angkot.

Dulu sebenarnya kami enggan untuk jalan-jalan bareng full tim seperti sekarang ini. Kami pikir betapa repotnya membawa semua anak pergi dengan kendaraan umum. Anak-anak mudah rewel karena gerah dan lamanya perjalanan. Jika naik taksi, bisa-bisa anggaran jalan-jalan habis hanya untuk ongkos taksi saja. Dulu berpikir ingin sekali punya mobil sendiri, jadi perjalanan bisa lebih nyaman dan menyenangkan.

Terus-terang aku heran dengan orang tuaku dulu. Rasanya seingatku hampir tiap minggu kami berjalan-jalan sekeluarga dengan 3 anak juga, minimal berenang ke TMII, dengan naik angkot. Ketika aku tanyakan kepada mamah, dia menjawab, “Ya memang kondisinya seperti itu, tidak ada mobil. Nanti kalau nunggu punya mobil bisa-bisa anak-anak ga pernah jalan-jalan.” Dan memang kenyataannya hingga anak-anaknya besar mamah dan bapak tidak bisa membeli mobil. Coba bayangkan, kalau mamah dan bapak berpikir seperti kami sekarang, mungkin memori senangnya berjalan-jalan berenang tidak akan ada di otakku.

Lama-kelamaan aku belajar menerima kenyataan bahwa kami memang belum mampu untuk punya mobil sendiri. Dan itu tidak boleh menghentikan kami untuk bersenang-senang pergi berjalan-jalan bersama anak-anak. Maka aku menyiapkan kondisi mentalku untuk bersabar menghadapi kondisi rewel anak-anak. Aku juga berpikir pengalaman seperti ini perlu untuk anak-anak. Mereka bisa belajar untuk menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan untuk mereka, belajar bersabar dan mempertahankan kesabarannya. Lagipula, mereka butuh kenangan ini, karena bisa jadi ketika mereka nanti menjadi pemimpin yang punya kuasa merubah kondisi bangsa, memori ini yang akan membuat mereka melakukan perubahan akan kondisi transportasi umum di negara ini. Memori ini juga yang akan membuat mereka merasakan perjuangan sebagai orang yang “terbatas”, terbatas dari akses berkehidupan yang nyaman karena kondisi keterbatasan uang.

Sebelum kami berangkat, aku membuat perjanjian dengan anak-anak bahwa nanti di Gramedia anak-anak hanya membeli satu barang saja. Ini untuk mencegah anak-anak rewel kalau nanti mereka meminta barang yang lebih dari yang di janjikan. Aku juga membuat perjanjian bahwa anak-anak nanti harus bersabar dan tidak rewel selama dalam perjalanan.

Untuk naik angkot ke Depok, kami harus berjalan ke pangkalannya di Pasar Pal yang jaraknya kurang lebih 200 m. Kami berjalan kaki beriringan menuju kesana. Aku menggendong Aqilla, suamiku menggandeng Syamil dan Ais. Abdan berjalan sendiri sambil diawasi. Cuaca cerah, matahari agak terik menyinari. Ketika sampai di Pasar Pal, kami berhenti untuk membeli es teh manis sambil beristirahat sebentar. Bepergian dengan anak-anak memang harus banyak rehat supaya mereka tidak merasa perjalanan ini panjang, melainkan hanya merasakan beberapa perjalanan kecil. Sambil anak-anak yang lain minum es teh manis, aku dan Ais mampir sebentar ke dalam pasar untuk membeli sendal baru untuk Ais karena sendal yang digunakan ujungnya rusak. Ais memilih sendal berwarna ungu bergambar Shaun the Sheep. Setelah selesai, kami pun melanjutkan kembali perjalanan dengan naik angkot.

image

Di angkot, anak-anak duduk dengan asyik sambil menghabiskan es teh masing-masing. Syamil terlihat mengantuk karena duduk di dekat pintu dan terkena angin. Tidak lama kemudian dia tertidur di pangkuan suamiku. Sepanjang perjalanan kami mengobrol. Anak-anak banyak menanyakan hal-hal yang dilihatnya selama di perjalanan. Setelah sekitar 20 menit akhirnya kami sampai di tempat yang kami tuju. Syamil tidak ngambek ketika dibangunkan.

Anak-anak terlihat senang sekali. Kami memutuskan untuk menuju basement Gramedia dulu untuk melihat-lihat buku-buku yang sedang diskon. Anak-anak melihat-lihat buku mana yang kira-kira mereka suka. Aisha melihat buku bergambar telinga dan menanyakan kepadaku apa judulnya. “Telingaku sehat” kataku. “Wah, boleh ga bunda beliin buku ini buat Ibram? (adiknya Syamil). Kemaren kan Ibram sakit telinganya.” Aku mengangguk membolehkan. Aku juga melihat ada buku flip the flap tentang musim yang bagus dan tentu saja murah. Abdan memilih buku TTS bahasa inggris yang menurutnya seru. Dia mengantri di kasir dan membayar sendiri buku yang dibelinya. Syamil tiba-tiba rewel minta dibelikan fanta dingin ketika melihatnya dilemari pendingin minuman ringan yang ada disitu. Kami membelikan satu botol untuknya dan memintanya untuk berbagi dengan yang lain. Setelah selesai, kami menuju ke lantai satu untuk mencari tempat pensil buat Abdan.

image

Di lantai ini penuh dengan perlengkapan alat tulis yang lucu-lucu. Aisha tertarik untuk membeli satu set alat tulis berwarna pink yang harganya lumayan mahal. Aku minta Aisha melihat-lihat yang lain sebelum menentukan pilihannya. Abdan memilih tempat pensil bergambar Angry Bird. Melihat kakaknya memilih tempat pensil, Aisha dan Syamil juga memilih yang sama. Aisha memilih yang bergambar Tom n Jerry sedangkan Syamil memilih yang bergambar Batman.

Kami menuju lantai 2 untuk melihat-lihat buku. Aqilla senang sekali naik eskalator sampai aku harus 2 kali bolak-balik naik. Sampai di lantai 2 anak-anak sibuk berlari-larian bercanda-canda. Aku melihat-lihat buku yang menarik sambil mengawasi anak-anak. Tiba-tiba Aisha dan Aqilla berhenti di sampingku. Rupanya Aqilla menangis meminta untuk memakai sendal Ais yang baru karena ia suka dengan gambar shaun the sheepnya. Aisha tidak mau memberikan. Aku membujuk supaya Aisha mau sebentar saja meminjamkan sendalnya dan untuk sementara memakai sendal yang lama. Aisha tidak mau dan mulai menangis juga. Aku terus membujuk Aisha sambil menjelaskan kalau Aqilla masih sulit diberikan pengertian untuk mengalah. Aisha nampaknya khawatir Aqilla tidak akan mengembalikan sendalnya. Setelah aku mengiyakan untuk membelikan lagi yang baru jika Aqilla tidak mengembalikan, akhirnya Aisha mau meminjamkannya. Aku memeluknya dan mengucapkan terima kasih sudah mau mengalah. Tak lama Aisha malah asyik bermain perosot-perosot di lantai dengan sendalnya karena sendalnya yang lama lebih licin.

Syamil meminta kepadaku untuk dibelikan pensil. Aku mengingatkan tentang perjanjian kami bahwa hanya akan membeli satu barang saja. Syamil bertanya kenapa. Aku menjelaskan sambil bercanda kalau nanti Syamil harus membayar pensilnya dengan membantu mengepel toko karena aku tak ada uang untuk membayarnya. Syamil tertawa dan akhirnya lupa akan permintaannya dan asyik lagi main dengan saudara-saudaranya.

image

Setelah tempat pensil dibayar kami pun pulang. Aqilla tertidur di gendongan ayahnya. Kami menaiki angkot menuju arah pulang. Di perjalanan Aisha dan Syamil tertidur. Kami berkata bahwa tidak apa-apa jika mau tidur. Tapi nanti jika sampai harus bangun. Ketika angkot sudah sampai di pangkalan aku membangunkan Syamil dan Aisha. Mereka bangun dan kami berjalan kaki menuju rumah. Di jalan, Aisha meminta untuk dibelikan minuman. Akhirnya kami membeli 2 botol minuman. Tidak lupa aku meminta mereka untuk berbagi dengan yang lain.

Alhamdulillah kami sampai di rumah dengan selamat. Capek, tapi tidak bete. Perjalanan kami pun alhamdulillah menyenangkan dan tidak ada kendala yang berarti. Mudah-mudahan perjalanan ini bisa terukir menjadi kenangan yang indah bagi anak-anak, seperti kenangan indah yang kumiliki ketika aku masih kecil dulu.

image

You Stuck With It, So Deal With It!

Standard

image

Saya sendiri sering mengatakan, menjadi orang tua adalah hal yang sulit. Setelah banyak membaca, banyak tahu, semua menjadi lebih sulit. Sudah ada gambaran ideal bagaimana seharusnya orang tua itu, dan betapa jauh rasanya saya menjadi sosok itu. Menjadi sosok orang tua yang baik merupakan proses belajar yang tiada henti bahkan dari menit ke menit. Dan saya sadar, saya banyak melakukan kesalahan, bahkan berulang. Dan seringkali ketika saya berbuat kesalahan, saya frustasi, dan saya merasa saya bukan orang tua yang baik. Bahkan dalam pelarian di pikiran saya, mungkin lebih baik jika saya bekerja lagi saja, dan tidak mengambil peran sebagai orang tua begitu besar seperti sekarang ini. The stupid and giving up part of me.

The thing is, ga ada yang namanya “part time parent”.  Entah apakah orang tua itu bekerja atau tidak, tanggung jawabnya tidak berkurang sedikit pun. Harus memikirkan mau seperti apa anak-anak kelak, dan bagaimana cara mendidiknya sehingga bisa mencapai itu. Masing-masing kita, sesuai kondisi masing-masing, harus mencari jalan dan cara semampu kita bagaimana agar tujuan itu berhasil. Bahkan dari menit ke menit, literally! Terlalu kasar mungkin untuk mengatakan, you stuck with it, so you have to deal with it!” Tapi saya rasa itulah kenyataan. Kita harus sadar akan kenyataan itu, saya harus sadar akan kenyataan itu, maka saya harus mencari cara bagaimana mengatasi rasa frustasi saya, sehingga saya bisa mencapai tujuan.

Belajar merupakan proses yang sulit dan panjang. Kita sedang mencoba untuk mengetahui sesuatu yang kita buta sama sekali tentang itu supaya kita menjadi tahu. Setelah tahu kita harus berusaha untuk melakukannya dan setelah berhasil melakukannya kita melatih diri untuk konsisten melakukannya. Maka terimalah fakta bahwa kita pasti berbuat kesalahan.  Hadapi, perbaiki, then move on. Tidak perlu beromantisme dalam frustasi, apalagi keputus asaan. You just got to, and need to, move on.

Jadi, ketika saya nanti lepas diri dan marah ketika Aisha tidak juga mengeja dengan benar, stop. Berhenti marah. Pelankan volume suara, rendahkan. Pikirkan bahwa Aisha sedang belajar. Ia butuh waktu. Bahkan mungkin harus mencoba cara lain. Mintalah maaf karena sudah terlanjur marah. Maaf ya Ais, bunda marah. Bunda lagi belajar mengatasi marah.

Origami mobil

Standard

Hari ini sepert biasa kami ke toko buku bekas. Anak-anak masing-masing memilih buku yang disukainya. Aisha memilih buku kerajinan origami untuk TK dengan tema alat transportasi. Ketika sampai di rumah, Aisha antusias untuk membuat origami dengan panduan buku tersebut. Ternyata buku tersebut memberikan langkah demi langkah pembuatan origami yang cukup mudah dimengerti sehingga Aisha bisa membuat origami mobil hanya dengan melihat gambar-gambar langkah-langkah tersebut sendiri. Inilah hasil karya origami Aisha yang pertama…

image

Origami mobil. Jalanan ide sendiri dari Aisha

image

one proud origami crafter

10 Tahun Lagi

Standard

10 tahun lagi, dari hari ini…

Aku sedang duduk di depan teras rumah. Rumah dari kayu. Suasananya rimbun, banyak pohon besar yang meneduhkan. Aku berumur 43 tahun, duduk dengan nyaman di kursi malas ini, sesekali memperhatikan Aisha, 15 tahun dan Aqilla 13 tahun yang sedang asyik merawat tanaman dan pekarangan.

Suamiku sedang asyik didepan laptop, melakukan pekerjaannya. Sekarang pekerjaannya bisa dilakukan dari rumah. Ke kantor sesekali saja, jika harus meeting dengan klien penting atau ada keperluan mendesak. Raut wajahnya tanpa beban, tenang. Ia menikmati pekerjaannya, menikmati lingkungan sekitar, menikmati rumah kami.

Rumah kayu ini bertingkat. Warna naturalnya membuat perasaan kembali ke alam. Rumah ini dikelilingi perkebunan. Ada kolam untuk budidaya ikan, ada kandang-kandang sapi dan kambing. Kami memiliki usaha agribisnis yang sukses dan maju. Semua dilakukan dari rumah kami. Sebagian hasil kebun dan ternak kami simpan untuk kebutuhan kami sehari-hari. Makan kami cukup dari hasil kebun dan ternak saja.

Abdan 18 tahun, sedang memilih-milih perguruan tinggi. Kami menyerahkan kepadanya untuk memilih perguruan tinggi dimanapun, karena dia sudah tahu bidang apa yang dia inginkan dan dia sudah tahu perguruan tinggi mana yang bisa memenuhi kebutuhan belajarnya.

Hidup disini tenang, tentram dan damai.