Aisha Berproses

Standard

Aisha termasuk anak yang pemalu. Jika bertemu dengan orang baru atau situasi baru, dia cenderung menjadi pendiam dan menempel di sisi orang yang sudah dikenalnya. Di rumah dia juga terlihat belum terlalu nyaman untuk bermain dengan tetangga sekitar. Aku menyadari ini, tapi aku pikir memang dia butuh proses untuk itu. Aku memahami perasaannya, karena aku pun memiliki sifat yang sama.

Memang, proses itu sedang berlangsung. Ini ku ketahui dari 2 peristiwa yang terjadi belum lama ini. Peristiwa pertama terjadi ketika Aisha diundang ke acara ulang tahun salah seorang kawannya. Ketika itu pembawa acara menawarkan kepada anak-anak yang mau bernyanyi di depan akan di beri hadiah. Aku menawari Aisha apakah dia mau. Sebenarnya aku tidak terlalu berharap banyak, karena aku tahu bagaimana sifatnya. Aisha bertanya apakah betul nanti akan di beri hadiah, aku menjawab iya. Suprisingly, dia mau dan mengangkat tangannya. Dia maju sendiri, sebagai anak yang pertama mengangkat tangan. Dia menyanyi sendiri lagu balonku yang dipilihnya, dengan diiringi tepuk tangan orang yang datang. Walaupun suaranya terdengar pelan, tapi ia bernyanyi hingga selesai.  Aku terharu hingga air mata memenuhi pelupuk mata. Ia terlihat senang ketika selesai bernyanyi mendapat hadiah sebuah pin bergambar Bernard Bear. Ketika dia sudah kembali kesisiku, aku memberinya selamat. “Ais selamat ya, hebat Ais sudah percaya diri.”
Selang berapa lama, ia menunjuk tangan lagi untuk menjawab pertanyaan kuis yang diadakan oleh pembawa acara dan kembali mendapat hadiah. Sepanjang acara dia terlihat nyaman dan tidak menunjukkan kegelisahan. Ketika kami pulang, aku bercerita kepada ayahnya tentang apa yang terjadi. Tentu saja sambil heboh memberi selamat lagi.

Peristiwa kedua terjadi ketika aku meminta tolong Aisha untuk membeli makanan di warung di ujung gang. Sebenarnya aku sudah pernah menyuruh dia sebelumnya, beberapa waktu lalu. Dia mau, tapi ketika pulang, dia menangis. Sepertinya dia malu dan tidak berani hingga belum sempat sampai membeli makanan yang aku minta. Kali ini, dia bertanya bagaimana kalau nanti Ais malu? Aku bilang ya ga apa-apa, coba saja dulu. Neneknya yang melihat menatap ragu-ragu. Aku pikir, di latih saja dulu, tidak masalah bagaimana nanti hasilnya.

Agak lama ku tunggu dia belum kembali. Aku sudah memakai gamis untuk menyusulnya, khawatir dia menangis di jalan. Tiba-tiba dia sampai di depan rumah dengan wajah ceria. “Bunda, Ais udah bilang ke Bude warung. Kata Bude tunggu sebentar dibikinin, soalnya lagi banyak yang beli.” Aku ulangi lagi pesanan makanan yang tadi aku minta Aisha untuk membelinya. Dia bilang iya dan sudah di bilang ke Bude warung. Aisha bercerita, “Ais kan tadi ke warung Bude tuh, trus Ais cari Bude, tapi ga ada. Kan banyak orang tuh. Trus Ais bingung, balik lagi. Tapi Ais berhenti di depan dapur Bude. Eh, ada Bude di dapur, langsung aja Ais bilang Bude.” Serta merta aku heboh memberikan selamat. Aku jabat tangannya dan berkata, “Wah, Ais hebat ya. Berani… Selamat ya Ais!” Dia nampak senang sekali. Beberapa lama kemudian, Bude warung datang mengantarkan pesanan makanan yang sesuai dengan apa yang aku pesankan kepada Ais. Alhamdulillah😀.

Ukuran keberhasilan anak-anak memang berbeda-beda. Masing-masing orang tua pasti memiliki kriteria masing-masing. Menurutku, ini adalah salah satu prestasi penting buat Aisha. Aku memahami beratnya perjuangan untuk menepis rasa malu dan mengembangkan percaya dirinya. Semoga saja, proses ini bisa dilalui Aisha dengan nyaman dan lancar.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s