Mendidik Anak = Mendidik Orang Tua

Standard

Ketika melihat ada kerajinan tangan membuat Pot Telur Lucu di Bee Magazine, Aisha tertarik dan memutuskan untuk membuatnya hari ini. Aku lihat bahan-bahan yang harus disediakan, hampir semua ada dirumah. Cangkang telur yang bulat, ada. Kapas, ada. Gelas telur, ada. Biji kacang hijau, ada. Semprotan Air, ada. Cat air, mmm…  ini sebenarnya tidak ada. Tapi aku ingat kami masih punya sisa pewarna makanan. Mungkin bisa dijadikan pengganti untuk cat air. Setelah bahan terkumpul, kami pun mulai membuatnya.

Kami membuatnya bersama sambil membaca langkah-langkah yang harus di lakukan dari majalah. Saatnya mewarnai cangkang telur, Aisha semangat. Dia mau mewarnai cangkang dengan warna merah, lalu di beri warna kuning untuk matanya. Selesai Aisha mewarnai cangkangnya dengan warna merah, dia mencoba membuat matanya dengan warna kuning. Ternyata tidak bisa, warna kuning terlihat tidak jelas dan membaur dengan warna merah. Memang pewarna makanan itu terlalu cair, tidak kental seperti cat warna. Jadi ketika di oleskan ke cangkang telur warna merah menjadi terlihat transparan, tidak menutupi warna asli cangkang telur. Tambah lagi, pewarna makanan tidak cepat kering. Aisha terlihat kecewa, mungkin tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan dan inginkan sebelumnya. Mukanya sudah ingin menangis. Aku berusaha untuk mencampurnya dengan tepung maizena dengan harapan akan lebih kental. Tapi ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Aisha marah lalu menangis. Melihat Aisha marah dan menangis, aku mulai merasa tidak sabar, namun terus ku coba menahan diri. Aku menyarankan agar matanya di gambar dengan crayon saja sambil beranjak mengambil crayon. Aisha bilang, “Ga mau, Bunda aja!” sambil menangis. Mendengar dia berkata dengan intonasi tinggi seperti itu, pertahanan kesabaranku lenyap. Aku marah dan menjawab, “Tidak perlu marah, bicara baik-baik sama Bunda!” dengan nada yang sama tinggi. Aku terus mencoba membuat mata dengan crayon di cangkang telur itu, ternyata karena menekan terlalu keras cangkang itu pecah. Aisha tambah menangis dan meminta telur yang baru. Aku mengambilkan cangkang telur yang baru. Namun tangisnya tak kunjung reda. Akhirnya aku tinggalkan saja dia sendiri.

Aku duduk sambil menyalakan komputer. Aisha menghampiri sambil terus menangis. Aku berkata padanya dengan nada yang masih tinggi, “Bunda tidak bicara kepada Ais sampai Ais menenangkan diri dan ga nangis lagi.“ Aku masih marah. Tiba-tiba aku teringat peristiwa ketika dulu masih kecil. Mamaku pernah marah yang kelihatannya marah sekali. Padahal aku tidak mengerti salahku apa. Yang aku tahu mama marah, aku takut. Sekarang baru terpikir olehku, percuma marah terhadap anak seumur Aisha, karena bisa jadi dia tidak mengerti kenapa bundanya marah. Awalnya kan marah itu agar yang dimarahi itu berubah, menjadi sesuai dengan yang diinginkan oleh yang sedang marah. Sedangkan Aisha bisa jadi belum mengerti seluruhnya apa yang ku inginkan, dan yang diingat hanya Bunda marah, seperti ingatanku terhadap mamaku dulu itu.

Berangsur-angsur tangis Aisha mereda. Lama-lama dia tenang. “Bunda, Ais mau buat lagi telurnya.” Mendengar itu aku senang. “Silahkan Ais buat sendiri ya..” Akhirnya dia membuat lagi pot cangkang telurnya dari awal. Ketika dia mencoba mewarnai cangkang telurnya, kali ini dia mencoba mewarnai langsung menggunakan tangannya, tidak memakai kuas lagi. Warnanya menjadi lebih tebal dan Aisha terlihat lebih puas. Ia seperti menemukan ide baru dan bersemangat lagi. Akhirnya ia berhasil menyelesaikan pot cangkang telurnya dengan sedikit saja bantuan dariku.

Pengalaman tadi membuatku berpikir tentang bagaimana sikapku dan sikap Aisha. Aisha dan aku bersikap sama. Kami terpancing untuk marah. Seharusnya kami tidak perlu begitu. Dan seharusnya aku yang lebih dulu untuk bisa tenang dan bersabar.

Akhirnya aku bicara kepada Aisha. “Ais, tadi waktu kita bikin pot cangkang telur, Ais marah ya..” Ia mengangguk. “Bunda juga marah ya..” Ia mengangguk lagi. “Kita sama-sama marah ya. Seharusnya kita ga boleh gitu ya, seharusnya kita lebih tenang dan bersabar ya.. Bunda minta maaf ya tadi Bunda marah.” Ia berkata, “Ais juga”. Aku mengajaknya bersalaman. “Kita janji ya, nanti-nanti lagi kita ga cepet marah ya..” Dia tersenyum. Kita pun bersalaman lagi. “Menurut bunda kayanya kalau kita bisa lebih tenang jadi kita bisa lebih berpikir ya Ais, kaya tadi Ais ketika ga nangis dan tenang jadi bisa berpikir tentang mewarnai cangkangnya pakai jari saja ya…” Mendengar perkataanku dia semangat untuk menceritakan kembali bagaimana dia bisa menemukan ide untuk mewarnai dengan tangan tadi.

Memang ya, mendidik anak = mendidik orang tua. No more, No less.😀

About Rika

Bunda 3 anak yang mudah-mudahan selalu bersemangat belajar. Sedang hobi memasak, terutama memasak kue. Suka membaca dan menulis. Saat ini, sedang berusaha bergulat menyeimbangkan antara pekerjaan rumah sehari-hari tanpa asisten rumah tangga dan meng-home education-kan ketiga anaknya, Abdan Syakuro, Aisha Ain Al Saba dan Aqilla Ibtihal Imani.

6 responses »

  1. Indah. Mengharukan. Jadi ingat omongan saya waktu anak pertama lahir. Waktu itu saya bilang ke ibunya, “Ingat, dia bukan hanya anak, bukan hanya bayi tak berdaya, tp dia juga adalah guru kita. Terutama guru dalam kesabaran!”

    • Sepengalaman saya, seumur saya ini susah untuk membangkitkan semangat belajar. Salah satu yg patut di syukuri adalah ketika anak belajar, kita pun “dipaksa” untuk belajar juga🙂

  2. Aiiihhh subhanalloh,,, kakak Aisha,,, shalihat sedang belajar bersabar,,, mesti dapet cium dua pipi nih,, muuaaachh mmuuuaaacchh,,,
    Hmmm,, gimana, kakak dah dibeliin bunda timbangan digital beluumm he he,,🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s