Monthly Archives: February 2012

Menemukan Buku Harta Karun

Standard

Sampul Buku

Ada buku yang menarik perhatian saya ketika berkunjung ke toko buku bekas beberapa waktu lalu. Sebuah buku puisi terbitan tahun 1979 berjudul “Puisiku, Duniaku Kumpulan Puisi dan Lukisan Karya Anak-anak”. Buku ini diterbitkan dalam rangka menyambut Tahun Internasional Anak-anak 1979, di susun oleh Eka Budianta dan Susianna Darmawi.

Menurut saya buku ini unik. Yang pertama karena umurnya yang 33 tahun, persis seumuran dengan saya. Betapa tua buku ini. Setua saya, ha ha ha.. :D. Tentunya sudah banyak tangan yang memegang, mata yang membaca dan hati yang terhibur olehnya.

Puisi didalamnya ada yang membuat saya takjub, ada yang lucu ada pula yang sepertinya sudah ter”sepuh” pesan sponsor.  Masing-masing mempunyai sentuhan keunikan tersendiri.

Satu puisi yang cukup membuat saya takjub adalah puisi karya M. Ridha Azhari Massir berikut :

SETITIK EMBUN

Setitik embun di ujung daun
kemilau memantul mentari pagi
Maka datanglah bayu menghimbau

Meneteslah ia
ke mana
ia pun tak tahu

Sejemput rumput menadahnya
kering-kerontang dibakar kemarau
Namun titik embun membasahinya

Maka dari rumput kering
yang dibasahi titik embun
serta rahman-Nya Sang Pencipta
tersembullah setitik rumput hijau

Suatu yang baru
di dalam lingkaran hidup yang berantai ini
Dan itulah kami

-M. Ridha Azhari Massir, 11 tahun-

Menurut saya rangkaian kata yang dipilihnya cukup melebihi umurnya. Menakjubkan…

Ada lagi dua puisi yang saya suka :

Puisi berjudul "Tuhan" dan "Doa"

TUHAN

Aku ingin melihat
Tetapi tak dapat
Aku ingin berjumpa
Tetapi tak bisa

Aku tak pernah melihat
Aku tak pernah berjumpa
Tetapi aku percaya
Tuhan ada

-Yusak S., kelas 4 SD-

DOA

Kuangkat tangan
kupejamkan mata
kubuka hati ini
kupinta Tuhan
menunjukkan jalan

-Salisati Saan, kelas 6 SD-

Yang ini, lucu 🙂 :

KENAPA AKU NANGIS?

Ibu bilang aku cengeng
Ayah bilang aku cengeng
Mereka tak tahu
Kenapa aku nangis
Bukuku dirusak kucing

-Susi Sudiarto, kelas 3 SD-

Kata Sambutan dari Menteri Kordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat tahun 1979, Bapak Surono

RAMBUT

Kau penghias kepala
Mahkota setiap manusia
Tapi sayang, sekarang tak ada kau
Karena aku telah dicukur

-M. Syafei, 10 tahun-

PEMBAGIAN RAPOR

Hari ini rapor di bagikan
Hatiku dag-dig-dug tidak keruan
Bagaimana nilai prestasiku tahun ini?
Burukkah?
Baikkah?

Acara pun memuncak – aku dipanggil guru
Layaknya kucing hendak menerkam tikus
Lalu aku pun maju
Tangan gemetar, keringat keluar
Kuintip rapor pelan-pelan
Oh Tuhan, ingin rasanya aku pingsan
Dua buah angka merah tersenyum padaku

-Leny Mediawati, 11 tahun-

Yang ini, membuat saya berpikir, bagaimana kabar ayahnya sekarang. Penulis puisi cilik ini, sekarang umurnya sekitar 45 tahun :

DOA DI HARI ULANG TAHUNKU

Yesus di surga
Aku tak minta yang mahal-mahal pada-Mu
Di hari jadiku yang ke – 12 ini
Hanya sebuah permintaan, Yesus
Sembuhkanlah ayahku
dari sakit kuningnya yang berlarut-larut
Aku akan bahagia sekali, Yesus
Andai Kau mau mengabulkannya
Terima kasih Yesus
Amin

-Ratnawati S., 12 tahun-

Membaca yang ini, memori langsung terbang ke masa lalu. Memang, kharisma pemimpin ini sampai juga ke anak-anak ya, atau karena tidak ada presiden selain beliau waktu itu? Ha ha ha…

Puisi berjudul Tahun Internasional Anak-Anak 1979

BAPAK SOEHARTO

Pangkatmu sangat tinggi
Yaitu menjadi presiden
Padahal dulu engkau anak desa
Berkat cita-citamu yang tinggi
Engkau berhasil menjadi presiden

Isterimu bernama Ibu Tien
Yang kalau Pak Soeharto pergi
Selalu ikut serta

Jangan marah Bapak dan Ibu Presiden
Kalau tersinggung hatinya
Dan jangan marah kepada saya
Ini hanya sebuah puisi belaka
Yang saya kirimkan

-Frandhy Dwi Hilmar, kelas 5 SD-

Terakhir, yang masih relevan dengan kondisi sekarang, walaupun 3 dekade telah berlalu :

PUNGLI

Namamu begitu pendek
Sependek keberanianmu terhadap Opstib
Engkau penghambat lajunya pembangunan
Engkau penghalang tercapainya kemakmuran
Pergi, pergi!
Pergilah engkau dari negeriku
Indonesia tercinta.

-Erwin Rosyadi Hs., kelas 6 SD-

Sungguh, menemukan buku ini seperti bertemu dengan harta karun :D.

Aisha Berproses

Standard

Aisha termasuk anak yang pemalu. Jika bertemu dengan orang baru atau situasi baru, dia cenderung menjadi pendiam dan menempel di sisi orang yang sudah dikenalnya. Di rumah dia juga terlihat belum terlalu nyaman untuk bermain dengan tetangga sekitar. Aku menyadari ini, tapi aku pikir memang dia butuh proses untuk itu. Aku memahami perasaannya, karena aku pun memiliki sifat yang sama.

Memang, proses itu sedang berlangsung. Ini ku ketahui dari 2 peristiwa yang terjadi belum lama ini. Peristiwa pertama terjadi ketika Aisha diundang ke acara ulang tahun salah seorang kawannya. Ketika itu pembawa acara menawarkan kepada anak-anak yang mau bernyanyi di depan akan di beri hadiah. Aku menawari Aisha apakah dia mau. Sebenarnya aku tidak terlalu berharap banyak, karena aku tahu bagaimana sifatnya. Aisha bertanya apakah betul nanti akan di beri hadiah, aku menjawab iya. Suprisingly, dia mau dan mengangkat tangannya. Dia maju sendiri, sebagai anak yang pertama mengangkat tangan. Dia menyanyi sendiri lagu balonku yang dipilihnya, dengan diiringi tepuk tangan orang yang datang. Walaupun suaranya terdengar pelan, tapi ia bernyanyi hingga selesai.  Aku terharu hingga air mata memenuhi pelupuk mata. Ia terlihat senang ketika selesai bernyanyi mendapat hadiah sebuah pin bergambar Bernard Bear. Ketika dia sudah kembali kesisiku, aku memberinya selamat. “Ais selamat ya, hebat Ais sudah percaya diri.”
Selang berapa lama, ia menunjuk tangan lagi untuk menjawab pertanyaan kuis yang diadakan oleh pembawa acara dan kembali mendapat hadiah. Sepanjang acara dia terlihat nyaman dan tidak menunjukkan kegelisahan. Ketika kami pulang, aku bercerita kepada ayahnya tentang apa yang terjadi. Tentu saja sambil heboh memberi selamat lagi.

Peristiwa kedua terjadi ketika aku meminta tolong Aisha untuk membeli makanan di warung di ujung gang. Sebenarnya aku sudah pernah menyuruh dia sebelumnya, beberapa waktu lalu. Dia mau, tapi ketika pulang, dia menangis. Sepertinya dia malu dan tidak berani hingga belum sempat sampai membeli makanan yang aku minta. Kali ini, dia bertanya bagaimana kalau nanti Ais malu? Aku bilang ya ga apa-apa, coba saja dulu. Neneknya yang melihat menatap ragu-ragu. Aku pikir, di latih saja dulu, tidak masalah bagaimana nanti hasilnya.

Agak lama ku tunggu dia belum kembali. Aku sudah memakai gamis untuk menyusulnya, khawatir dia menangis di jalan. Tiba-tiba dia sampai di depan rumah dengan wajah ceria. “Bunda, Ais udah bilang ke Bude warung. Kata Bude tunggu sebentar dibikinin, soalnya lagi banyak yang beli.” Aku ulangi lagi pesanan makanan yang tadi aku minta Aisha untuk membelinya. Dia bilang iya dan sudah di bilang ke Bude warung. Aisha bercerita, “Ais kan tadi ke warung Bude tuh, trus Ais cari Bude, tapi ga ada. Kan banyak orang tuh. Trus Ais bingung, balik lagi. Tapi Ais berhenti di depan dapur Bude. Eh, ada Bude di dapur, langsung aja Ais bilang Bude.” Serta merta aku heboh memberikan selamat. Aku jabat tangannya dan berkata, “Wah, Ais hebat ya. Berani… Selamat ya Ais!” Dia nampak senang sekali. Beberapa lama kemudian, Bude warung datang mengantarkan pesanan makanan yang sesuai dengan apa yang aku pesankan kepada Ais. Alhamdulillah :D.

Ukuran keberhasilan anak-anak memang berbeda-beda. Masing-masing orang tua pasti memiliki kriteria masing-masing. Menurutku, ini adalah salah satu prestasi penting buat Aisha. Aku memahami beratnya perjuangan untuk menepis rasa malu dan mengembangkan percaya dirinya. Semoga saja, proses ini bisa dilalui Aisha dengan nyaman dan lancar.

Kenapa Surat Al Alaq Bukan Surat Pertama di Al-Qur’an Bunda?

Standard

Seusai sholat magrib Abdan berlatih membaca Al Quran bersamaku. Aku teringat tentang surat Al Alaq yang sudah tamat di hapalnya. Meluncurlah percakapan ini dengan Abdan.

Aku : “Kakak tahu tidak artinya surat Al Alaq yang kemarin sudah kakak hapal?

Abdan : Itu kan surat pertama yang turun ya Bunda?

Aku : “Iya, disitu Allah memperkenalkan siapa Allah itu. Allahlah yang menciptakan manusia.”

Abdan : “Kenapa sih Bun, surat Al Alaq itu tidak diletakkan yang pertama, kan itu yang turun pertama. Kok malah Al Fatihah?”

Aku : “Karena Al Quran itu kan buku ilmu. Susunannya itu seperti buku. Kakak pernah lihat buku kan ada pembukaan, isi, terus kesimpulan atau penutup. Kakak tahu tidak artinya Al Fatihah? coba lihat deh di Qur’an. Artinya pembukaan kan? Nah, disitu ada inti dari Al Qur’an itu. Seperti Allah Ar Rahman dan Ar Rahim. Itu kan menjelaskan siapa Allah itu, terus Ihdinā -ṣ-ṣirāṭa -l-mustaqīm, kita harus meminta kepada Allah untuk di tunjukkan jalan yang lurus itu.

Raut wajahnya kelihatan berpikir.

Abdan : “Tapi kok ga ada surat penutup bun? Eh, tapi kalo ngobrol terus nanti kelamaan baca Al Qur’annya, Bun..”  😀

Aku : Ha.. ha.. ha.. Iya ya, ya udah yuk baca..”

Gambar : http://www.alquranclasses.com

Mendidik Anak = Mendidik Orang Tua

Standard

Ketika melihat ada kerajinan tangan membuat Pot Telur Lucu di Bee Magazine, Aisha tertarik dan memutuskan untuk membuatnya hari ini. Aku lihat bahan-bahan yang harus disediakan, hampir semua ada dirumah. Cangkang telur yang bulat, ada. Kapas, ada. Gelas telur, ada. Biji kacang hijau, ada. Semprotan Air, ada. Cat air, mmm…  ini sebenarnya tidak ada. Tapi aku ingat kami masih punya sisa pewarna makanan. Mungkin bisa dijadikan pengganti untuk cat air. Setelah bahan terkumpul, kami pun mulai membuatnya.

Kami membuatnya bersama sambil membaca langkah-langkah yang harus di lakukan dari majalah. Saatnya mewarnai cangkang telur, Aisha semangat. Dia mau mewarnai cangkang dengan warna merah, lalu di beri warna kuning untuk matanya. Selesai Aisha mewarnai cangkangnya dengan warna merah, dia mencoba membuat matanya dengan warna kuning. Ternyata tidak bisa, warna kuning terlihat tidak jelas dan membaur dengan warna merah. Memang pewarna makanan itu terlalu cair, tidak kental seperti cat warna. Jadi ketika di oleskan ke cangkang telur warna merah menjadi terlihat transparan, tidak menutupi warna asli cangkang telur. Tambah lagi, pewarna makanan tidak cepat kering. Aisha terlihat kecewa, mungkin tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan dan inginkan sebelumnya. Mukanya sudah ingin menangis. Aku berusaha untuk mencampurnya dengan tepung maizena dengan harapan akan lebih kental. Tapi ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Aisha marah lalu menangis. Melihat Aisha marah dan menangis, aku mulai merasa tidak sabar, namun terus ku coba menahan diri. Aku menyarankan agar matanya di gambar dengan crayon saja sambil beranjak mengambil crayon. Aisha bilang, “Ga mau, Bunda aja!” sambil menangis. Mendengar dia berkata dengan intonasi tinggi seperti itu, pertahanan kesabaranku lenyap. Aku marah dan menjawab, “Tidak perlu marah, bicara baik-baik sama Bunda!” dengan nada yang sama tinggi. Aku terus mencoba membuat mata dengan crayon di cangkang telur itu, ternyata karena menekan terlalu keras cangkang itu pecah. Aisha tambah menangis dan meminta telur yang baru. Aku mengambilkan cangkang telur yang baru. Namun tangisnya tak kunjung reda. Akhirnya aku tinggalkan saja dia sendiri.

Aku duduk sambil menyalakan komputer. Aisha menghampiri sambil terus menangis. Aku berkata padanya dengan nada yang masih tinggi, “Bunda tidak bicara kepada Ais sampai Ais menenangkan diri dan ga nangis lagi.“ Aku masih marah. Tiba-tiba aku teringat peristiwa ketika dulu masih kecil. Mamaku pernah marah yang kelihatannya marah sekali. Padahal aku tidak mengerti salahku apa. Yang aku tahu mama marah, aku takut. Sekarang baru terpikir olehku, percuma marah terhadap anak seumur Aisha, karena bisa jadi dia tidak mengerti kenapa bundanya marah. Awalnya kan marah itu agar yang dimarahi itu berubah, menjadi sesuai dengan yang diinginkan oleh yang sedang marah. Sedangkan Aisha bisa jadi belum mengerti seluruhnya apa yang ku inginkan, dan yang diingat hanya Bunda marah, seperti ingatanku terhadap mamaku dulu itu.

Berangsur-angsur tangis Aisha mereda. Lama-lama dia tenang. “Bunda, Ais mau buat lagi telurnya.” Mendengar itu aku senang. “Silahkan Ais buat sendiri ya..” Akhirnya dia membuat lagi pot cangkang telurnya dari awal. Ketika dia mencoba mewarnai cangkang telurnya, kali ini dia mencoba mewarnai langsung menggunakan tangannya, tidak memakai kuas lagi. Warnanya menjadi lebih tebal dan Aisha terlihat lebih puas. Ia seperti menemukan ide baru dan bersemangat lagi. Akhirnya ia berhasil menyelesaikan pot cangkang telurnya dengan sedikit saja bantuan dariku.

Pengalaman tadi membuatku berpikir tentang bagaimana sikapku dan sikap Aisha. Aisha dan aku bersikap sama. Kami terpancing untuk marah. Seharusnya kami tidak perlu begitu. Dan seharusnya aku yang lebih dulu untuk bisa tenang dan bersabar.

Akhirnya aku bicara kepada Aisha. “Ais, tadi waktu kita bikin pot cangkang telur, Ais marah ya..” Ia mengangguk. “Bunda juga marah ya..” Ia mengangguk lagi. “Kita sama-sama marah ya. Seharusnya kita ga boleh gitu ya, seharusnya kita lebih tenang dan bersabar ya.. Bunda minta maaf ya tadi Bunda marah.” Ia berkata, “Ais juga”. Aku mengajaknya bersalaman. “Kita janji ya, nanti-nanti lagi kita ga cepet marah ya..” Dia tersenyum. Kita pun bersalaman lagi. “Menurut bunda kayanya kalau kita bisa lebih tenang jadi kita bisa lebih berpikir ya Ais, kaya tadi Ais ketika ga nangis dan tenang jadi bisa berpikir tentang mewarnai cangkangnya pakai jari saja ya…” Mendengar perkataanku dia semangat untuk menceritakan kembali bagaimana dia bisa menemukan ide untuk mewarnai dengan tangan tadi.

Memang ya, mendidik anak = mendidik orang tua. No more, No less. 😀

Aisha dan Ulang Tahun

Standard

Akhir-akhir ini di sekitar lingkungan rumah sedang ngetrend acara ulang tahun. Anak-anak umur 1-4 tahun mengadakan pesta ulang tahun di masing-masing rumah. Ada kue tart beserta lilin yang ditiup, balon dan juga goodie bag berisi makanan kecil.

Layaknya anak-anak, Aisha suka dengan acara ulang tahun. Namun kami tidak pernah mengadakan pesta ulang tahun di rumah. Maka dialog ini pun meluncur ketika datang undangan dari salah seorang kawannya.

Ais : “Bunda, kenapa sih Ais ga ulang tahun?”

Saya : “Karena Rosulullah tidak pernah buat pesta ulang tahun. Kita kan ngikutin Rosulullah. Rosullah berbuat itu kita ikut, kalau Rosulullah tidak berbuat itu kita juga ikut tidak berbuat.”

Ais : “Emangnya orang-orang ga kenal Allah?”

Saya : “Orang-orang kenal Allah, tapi kadang tidak kenal ajarannya. Allah itu kan mengajari Rosul harus begini, nanti Rosul ikut. Nah, kita ikut juga. “

Sampai sini percakapan terhenti. Tidak terlihat ukiran sedih atau tidak rela di raut wajahnya. Semoga dia mengerti dan ikhlas menjalaninya :).