Kebakaran!

Standard

“Api..! api..! panggil pemadam!!!!”

Suamiku berlari sambil membawa ember berisi air yang hampir penuh. Aku shock. Kaget. Ku gendong Aqilla berlari ke luar ke arah gang menuju jalan raya. Semua tetanggaku berlari pula bersama apa yang bisa di bawa. Dari situ ku lihat api sudah membumbung. Astagfirullah…!

***

Sticker Pemadam Kebakaran Cimanggis

Jam sembilanan malam. Aku hampir tertidur di kasur di depan TV. Aqilla masih berlarian main bersama Ayahnya. Kakak-kakaknya sedang menginap di rumah sepupunya, Syamil. Tiba-tiba aku lihat suamiku tidak ada dan meninggalkan Aqilla main sendirian. Ku dengar ada suaranya di samping rumah kami. Aku penasaran, kenapa suamiku meninggalkan Aqilla sendiri, padahal kalau keluar rumah biasanya dibawa. Apalagi dia tahu kalau aku sudah hampir-hampir tertidur. Sambil masih memakai daster panjang, ku ambil jilbab dan ku raih Aqilla lalu menyusul ke samping rumah. Aku lihat ada tetanggaku sedang sibuk mematikan api dari motor yang menyala. Nyalanya berasal dari tanki motor. Dia berusaha memadamkannya dengan kain basah, lalu air di ember. Suamiku berlari mengambil ember untuk membantu. Tapi api bukan mengecil, malah dia semakin membesar. Ada yang berteriak, “Api..! api..! Panggil pemadam..!!!” aku panik. Suamiku dan aku lari ke dalam rumah, berusaha menelepon 108 untuk menanyakan nomor telepon pemadam kebakaran Cimanggis. Tiba-tiba aku teringat sticker yang pernah di tempel Abdan di dekat cermin. Sticker itu adalah oleh-oleh dari pemadam kebakaran Cimanggis ketika beberapa bulan yang lalu Abdan field trip kesana. Sticker yang berisi no telepon pemadam kebakaran Cimanggis. Segera aku beritahu suamiku nomornya, dan dia pun menelepon kesana. Suamiku memberikan alamatnya dan mereka bilang akan segera datang. Aku teringat laptop kantor suami dan berteriak agar suamiku membawanya. Dia juga mengambil surat-surat penting dan beberapa barang yang bisa dibawa. Setelah mematikan sikring listrik, kami berlari ke arah depan gang menuju jalan raya. Kurasakan kaki menyentuh tanah yang dingin, aku bertelanjang kaki. Dari situ kulihat api sudah membumbung tinggi. Ya Allah… Astagfirullah… rumah tetanggaku sudah terbakar. Dari rumahku jaraknya dipisahkan dua kontrakan petak miliknya. Suamiku berlari ke dalam gang lagi untuk melihat situasi setelah menyerahkan kepadaku barang bawaan kami. Aku teringat belum memberitahu mamah dan adikku. Sambil masih menggendong Aqilla di tangan kiri dan mencangklong tas laptop di bahu kanan aku berjalan menuju rumah tetanggaku yang agak jauh dari rumah kami. Aku menitipkan barang bawaanku disana lalu meminta izin untuk menumpang telepon. Dadaku berdegup kencang, tanganku gemetar meraih gagang telepon. Adik iparku yang kukabari terkejut dan berjanji akan segera datang.

Aku kembali lagi ke depan gang rumahku. Suasananya gelap dengan bumbungan asap dan api yang belum padam. Nampaknya PLN sudah mematikan aliran listrik. Ku lihat polisi juga sudah ada yang datang mengamankan. Para tetanggaku dan orang-orang yang tidak kukenal ramai berkumpul. Lalu-lintas macet karena motor berhenti disisi jalan untuk menonton. Ku lihat tetanggaku yang terbakar rumahnya menangis histeris. Sirine mobil pemadam kebakaran terdengar mendekati. Berarti sekitar 20 menit setelah suamiku menelepon.  Aku dudukkan Aqilla di salah satu motor yang di parkir. Alhamdulillah anak ini tidak rewel. Aku tidak tahu sudah sampai rumah yang mana yang sudah dilalap api. Aku hanya bisa berdoa dan pasrah. Aku yakin Allah penentu yang terbaik. Aku merasa mual. Nampaknya rasa panik ini memicu lambung bereaksi.

Ku lihat mamah dan adikku datang dengan menaiki ojek. Ternyata kakak laki-lakiku sudah datang lebih dulu dan langsung mencari suamiku. Aku menitipkan Aqilla pada adikku. Mamah mengajakku untuk mendekat. Beliau panik dan ingin menyelamatkan barang-barang yang ada. Tapi aku sudah tidak ingin. Aku khawatir malah kami nanti yang celaka. Aku sudah bersyukur diri ini beserta anak dan suamiku bisa keluar dengan selamat. Akhirnya kami menunggu di salah satu warung di ujung gang.  Kulihat Aqilla sudah tertidur di gendongan adikku. Kami menunggu. Berdoa. Berharap. Ya Allah.. Semoga rumah kami tidak kena api.

Setelah sekitar satu jam ku dengar kabar bahwa api sudah melalap dua kontrakan disebelah rumahku. Tapi Alhamdulillah, atapnya sudah runtuh ke tanah. Lebih bersyukur lagi, ada tembok yang lumayan tinggi yang memisahkan antara rumahku dan kontrakan itu. Rumahku selamat. Tidak lama kemudian api sudah dapat dimatikan. Setelah keadaan benar-benar aman, kami kembali lagi kerumah. Keadaan masih gelap. Tapi sudah tidak ada asap. Selang beberapa waktu kemudian, PLN sudah menyalakan kembali aliran listrik.

Ku lihat rumah tetanggaku dan kedua kontrakannya sudah gosong hanya tertinggal puing. Sebenarnya kami masih bingung apa yang menjadi pemicu sehingga motor itu bisa memercikkan api, karena sebenarnya motor itu hanya terparkir di depan rumah dan tidak dinyalakan. Bahkan kabarnya, motor itu tidak di gunakan hari itu karena hanya digunakan sang istri untuk berangkat kerja.

Terselip syukur di hati. Ya Rahman, Engkau Maha Baik. Kalau saja ada angin yang besar, hampir pasti rumah kami juga terkena api. Kalau saja Allah tidak mengingatkanku tentang sticker pemadam kebakaran itu, belum tentu pemadam kebakaran cepat datang. Kalau saja Abdan tidak field trip ke pemadam kebakaran waktu itu, kami tidak akan punya informasi yang lebih cepat tentang nomor telepon pemadam kebakaran. Aku baru sadar, menempelkan informasi nomor-nomor telepon penting di rumah memang sangat bermanfaat dan wajib. Rasanya keluarga kami harus belajar lagi bagaimana menghadapi situasi gawat darurat yang menimbulkan kepanikan.

Tidak ada kebetulan atas apa yang terjadi.  Allah memang Maha Pengatur. Semoga kami bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi.

Rumah yang terbakar

Rumahku itu yang ada orang sedang berjongkok

6 responses »

  1. Walau sudah hati2, kadang kita terkena bencana krn kecerobohan org lain. (Ingat kasus kecelakaan di Tugu Tani). Krn itu kalau punya dokumen2 berharga, segera amankan dg berbagai medium, lalu titipkan di berbagai tempat. Juga barang2 berharga, termasuk anak2, mungkin lebih aman bila ditempatkan secara tersebar; yg satu di rumah nenek, yg lain di rumah om dll. (Hehe becanda!).

  2. Subhanallah mba rikaaa,,aku baru tau..الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَّ ya Allah SWT masih sayang mba rika sekeluarga,,speeecchless tp jadi ambil plajaran kudu nyimpen surat2 berharga di tmpat yg aman ni..thanks mba rik for sharing

    • Iya thiya… horor banget deh waktu itu.. udah pasrah bener-bener pasrah. Surat-surat penting memang lebih baik di taruh di tas yang gampang dibawa-bawa, dalam kondisi darurat jadi mudah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s