Monthly Archives: January 2012

Kebakaran!

Standard

“Api..! api..! panggil pemadam!!!!”

Suamiku berlari sambil membawa ember berisi air yang hampir penuh. Aku shock. Kaget. Ku gendong Aqilla berlari ke luar ke arah gang menuju jalan raya. Semua tetanggaku berlari pula bersama apa yang bisa di bawa. Dari situ ku lihat api sudah membumbung. Astagfirullah…!

***

Sticker Pemadam Kebakaran Cimanggis

Jam sembilanan malam. Aku hampir tertidur di kasur di depan TV. Aqilla masih berlarian main bersama Ayahnya. Kakak-kakaknya sedang menginap di rumah sepupunya, Syamil. Tiba-tiba aku lihat suamiku tidak ada dan meninggalkan Aqilla main sendirian. Ku dengar ada suaranya di samping rumah kami. Aku penasaran, kenapa suamiku meninggalkan Aqilla sendiri, padahal kalau keluar rumah biasanya dibawa. Apalagi dia tahu kalau aku sudah hampir-hampir tertidur. Sambil masih memakai daster panjang, ku ambil jilbab dan ku raih Aqilla lalu menyusul ke samping rumah. Aku lihat ada tetanggaku sedang sibuk mematikan api dari motor yang menyala. Nyalanya berasal dari tanki motor. Dia berusaha memadamkannya dengan kain basah, lalu air di ember. Suamiku berlari mengambil ember untuk membantu. Tapi api bukan mengecil, malah dia semakin membesar. Ada yang berteriak, “Api..! api..! Panggil pemadam..!!!” aku panik. Suamiku dan aku lari ke dalam rumah, berusaha menelepon 108 untuk menanyakan nomor telepon pemadam kebakaran Cimanggis. Tiba-tiba aku teringat sticker yang pernah di tempel Abdan di dekat cermin. Sticker itu adalah oleh-oleh dari pemadam kebakaran Cimanggis ketika beberapa bulan yang lalu Abdan field trip kesana. Sticker yang berisi no telepon pemadam kebakaran Cimanggis. Segera aku beritahu suamiku nomornya, dan dia pun menelepon kesana. Suamiku memberikan alamatnya dan mereka bilang akan segera datang. Aku teringat laptop kantor suami dan berteriak agar suamiku membawanya. Dia juga mengambil surat-surat penting dan beberapa barang yang bisa dibawa. Setelah mematikan sikring listrik, kami berlari ke arah depan gang menuju jalan raya. Kurasakan kaki menyentuh tanah yang dingin, aku bertelanjang kaki. Dari situ kulihat api sudah membumbung tinggi. Ya Allah… Astagfirullah… rumah tetanggaku sudah terbakar. Dari rumahku jaraknya dipisahkan dua kontrakan petak miliknya. Suamiku berlari ke dalam gang lagi untuk melihat situasi setelah menyerahkan kepadaku barang bawaan kami. Aku teringat belum memberitahu mamah dan adikku. Sambil masih menggendong Aqilla di tangan kiri dan mencangklong tas laptop di bahu kanan aku berjalan menuju rumah tetanggaku yang agak jauh dari rumah kami. Aku menitipkan barang bawaanku disana lalu meminta izin untuk menumpang telepon. Dadaku berdegup kencang, tanganku gemetar meraih gagang telepon. Adik iparku yang kukabari terkejut dan berjanji akan segera datang.

Aku kembali lagi ke depan gang rumahku. Suasananya gelap dengan bumbungan asap dan api yang belum padam. Nampaknya PLN sudah mematikan aliran listrik. Ku lihat polisi juga sudah ada yang datang mengamankan. Para tetanggaku dan orang-orang yang tidak kukenal ramai berkumpul. Lalu-lintas macet karena motor berhenti disisi jalan untuk menonton. Ku lihat tetanggaku yang terbakar rumahnya menangis histeris. Sirine mobil pemadam kebakaran terdengar mendekati. Berarti sekitar 20 menit setelah suamiku menelepon.  Aku dudukkan Aqilla di salah satu motor yang di parkir. Alhamdulillah anak ini tidak rewel. Aku tidak tahu sudah sampai rumah yang mana yang sudah dilalap api. Aku hanya bisa berdoa dan pasrah. Aku yakin Allah penentu yang terbaik. Aku merasa mual. Nampaknya rasa panik ini memicu lambung bereaksi.

Ku lihat mamah dan adikku datang dengan menaiki ojek. Ternyata kakak laki-lakiku sudah datang lebih dulu dan langsung mencari suamiku. Aku menitipkan Aqilla pada adikku. Mamah mengajakku untuk mendekat. Beliau panik dan ingin menyelamatkan barang-barang yang ada. Tapi aku sudah tidak ingin. Aku khawatir malah kami nanti yang celaka. Aku sudah bersyukur diri ini beserta anak dan suamiku bisa keluar dengan selamat. Akhirnya kami menunggu di salah satu warung di ujung gang.  Kulihat Aqilla sudah tertidur di gendongan adikku. Kami menunggu. Berdoa. Berharap. Ya Allah.. Semoga rumah kami tidak kena api.

Setelah sekitar satu jam ku dengar kabar bahwa api sudah melalap dua kontrakan disebelah rumahku. Tapi Alhamdulillah, atapnya sudah runtuh ke tanah. Lebih bersyukur lagi, ada tembok yang lumayan tinggi yang memisahkan antara rumahku dan kontrakan itu. Rumahku selamat. Tidak lama kemudian api sudah dapat dimatikan. Setelah keadaan benar-benar aman, kami kembali lagi kerumah. Keadaan masih gelap. Tapi sudah tidak ada asap. Selang beberapa waktu kemudian, PLN sudah menyalakan kembali aliran listrik.

Ku lihat rumah tetanggaku dan kedua kontrakannya sudah gosong hanya tertinggal puing. Sebenarnya kami masih bingung apa yang menjadi pemicu sehingga motor itu bisa memercikkan api, karena sebenarnya motor itu hanya terparkir di depan rumah dan tidak dinyalakan. Bahkan kabarnya, motor itu tidak di gunakan hari itu karena hanya digunakan sang istri untuk berangkat kerja.

Terselip syukur di hati. Ya Rahman, Engkau Maha Baik. Kalau saja ada angin yang besar, hampir pasti rumah kami juga terkena api. Kalau saja Allah tidak mengingatkanku tentang sticker pemadam kebakaran itu, belum tentu pemadam kebakaran cepat datang. Kalau saja Abdan tidak field trip ke pemadam kebakaran waktu itu, kami tidak akan punya informasi yang lebih cepat tentang nomor telepon pemadam kebakaran. Aku baru sadar, menempelkan informasi nomor-nomor telepon penting di rumah memang sangat bermanfaat dan wajib. Rasanya keluarga kami harus belajar lagi bagaimana menghadapi situasi gawat darurat yang menimbulkan kepanikan.

Tidak ada kebetulan atas apa yang terjadi.  Allah memang Maha Pengatur. Semoga kami bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi.

Rumah yang terbakar

Rumahku itu yang ada orang sedang berjongkok

Advertisements

Status Facebook

Standard

Malang melintang di dunia facebook membuat saya akrab dengan status-status. Ada status serius, bercanda, lucu, pernyataan sikap, marah, bingung dan beragam lagi. Ragamnya pun bisa berjuta lagi, sesuai dengan apa yang menjadi perhatian masing-masing usernya pada saat itu.

Sedikit banyak, status-status ini mempengaruhi gambaran tentang orang tersebut di pikiran saya. Karena kebanyakan teman-teman facebook saya adalah orang-orang yang sudah sekian lama tidak bertemu, atau malah tidak pernah bertemu sama sekali. Hanya kenal di facebook. Kalau saya pikir wajar saja kalau status-status tersebut mempengaruhi penggambaran saya terhadap orang tersebut karena hanya itulah yang saya “temui”. Hanya itulah “kabar” mereka. Maka ketika nama orang itu disebut, yang tergambar di otak saya adalah status-status mereka yang pernah saya baca di facebook. 

Saya pernah di hubungi salah satu teman di facebook yang bertanya tentang pendidikan anaknya, karena saya rajin buat status dengan link-link tentang pendidikan anak. Berarti, status facebook itu memang sedikit banyak mempengaruhi pikiran orang terhadap kita. Kalau saya membaca status orang yang secara rutin isinya penuh dengan kata-kata baik, misalnya ayat-ayat Al Qur’an, maka yang tergambar dipikiran saya adalah orang tersebut baik, taat, sholeh, dan sebagainya yang baik-baik. Nah, jika status yang dibuat sebaliknya? maka gambarannya pun menjadi sebaliknya.

Memang seringkali, status facebook itu adalah ungkapan hati. Yang sedang ingin mengucap ulang tahun kepada ibunya misalnya, membuat status tentang itu di facebook. Padahal, bisa jadi ibunya tidak ada di friendlistnya, malah mungkin ga tahu facebook sama sekali :D. Atau ada yang curhat kangen dengan si dia, memajang status tentang rasa kangennya itu di facebook. Kalau yang menurut saya kurang pas, jika sedang berselisih dengan seseorang atau malah suami, membuat status yang berisi caci maki. Hadeehhh… seisi dunia jadi tahu tentang permasalahannya, padahal yang di tuju hanya ke satu orang itu.

Kalau menurut saya, jika ibunya berulang tahun ya tidak apa-apa jika di “status” di facebook, jadi kan banyak yang mendoakan. Tapi jangan sampai lupa bilang juga ke orangnya langsung, kalau memang beliau tidak punya akun facebook. Yang sedang bermasalah dengan suami, rasanya membuat status di facebook tentang itu akan lebih mengundang lebih banyak persoalan, terutama persoalan yang bersumber dari kesalahpahaman karena ketidak utuhan cerita. Apalagi kalau di friendlist kita ada mertua atau adik/kakak ipar, waduh, cerita bisa jadi lebih runyam. Rasanya lebih solutif, jika permasalahan di bicarakan langsung dengan suami tercinta, atau orang terdekat jika memang  perlu bantuan. Lebih sedikit orang tahu, lebih baik.

Untuk yang lain yang ungkapannya lebih pribadi seperti kekesalan terhadap seseorang, coba deh di rubah settingan statusnya. Kalau anda bisa lihat ketika kita akan posting status ada tombol yang bertuliskan “Public“, jika di klik maka akan keluar drop down menu tentang siapa saja yang bisa membaca status kita. Kita bisa setting ke public, friends, only me, family atau bahkan bisa custom. Untuk custom kita bisa mengatur satu atau dua orang saja yang kita tuju, tanpa orang lain perlu tahu dan orang yang dituju pun tidak tahu bahwa hanya dia sebenarnya yang dituju. Begitu lebih bijak, menurut saya.

Berhati-hati dengan status facebook kita lebih baik, karena itu bisa mempengaruhi penilaian orang terhadap kita. Memang ini penilaian setipis kulit ari, judging a book by its cover. But still, inilah kenyataan yang terjadi. Idealnya memang kita bertemu orangnya, sehingga mungkin kita bisa mengetahui kelengkapan dari cerita, baik memang ceritanya langsung maupun dari bahasa yang tidak bisa tertuliskan, seperti sikap dan ekspresi orangnya.  Dengan begitu kesalahan penilaian bisa lebih dapat dihindari. Namun seringkali, ini sulit dilakukan karena berbagai alasan. Jadi, please, hati-hati ya dengan status facebook kita.

gambar dari blakedeath

Program Belajar Bahasa Tahun ini

Standard

Tahun ini, ada dua bahasa yang ingin saya pelajari. Yang pertama bahasa Arab dan yang kedua bahasa pemrograman. Keduanya rencananya akan dilakukan online, via internet.

Kenapa bahasa Arab?

Saya merasa perlu mempelajari bahasa Arab karena ingin belajar tentang Al Qur’an lebih dalam dari sekedar membacanya saja. Sebenarnya dulu sudah pernah belajar, tapi kurang serius, jadinya hasilnya juga tidak serius 😛 . Setelah mengaji lama baru merasa bahwa memahami bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur’an adalah penting dalam rangka memahami Al Qur’an secara lebih utuh dan sesuai konteks. (Hadeuhh.. kemana aja neng..?)

Kenapa bahasa pemrograman?

Sebenarnya belajar tentang bahasa pemrograman baru saja terpikir ketika ada teman di facebook yang memposting link tentang codecademy. Situs ini mengajarkan step by step bahasa pemrograman Java Script. Lebih mudah untuk pemula seperti saya yang buta sama sekali tentang programming. Saya mencoba pelajaran yang pertamanya, Getting Started with Programming, sekarang sudah masuk lesson 9. Sepanjang ini saya cukup mengerti, tapi memang lebih mudah jika ada yang menjelaskan langsung. Apalagi jika kode yang dimasukkan salah, sering bingung sendiri dimana salahnya. Untung ada dosen pribadi yang bisa stand by ditanya-tanya. Dengan penjelasannya, saya jadi tidak tersesat dan putus asa karena frustrasi. Thank you honey bunny sweetty my programmer hubby :D. Untuk anda yang ingin belajar tapi khawatir frustrasi karena bingung juga, katanya sih ada forumnya dimana bisa tanya-tanya. Tapi ini saya belum pernah coba, jadi cari sendiri ya.. 😉

Alasan yang lain, I’m thinking about the possibility of career change.  Oh yeah?!  Yea, really. Saya sedang mencari alternatif penghasilan dimana bisa mencari uang tanpa meninggalkan rumah. Saya butuh kerja yang mobile (hihihi.. semboyannya MLM sekali, jadi inget jebakan MLM Soleh Solihun :D). Pertimbangannya tentu saja anak-anak. Mereka adalah prioritas utama saya sejak mereka dilahirkan, namun sempat tergeser ketika saya harus bekerja diluar rumah. Saya menaruh kembali mereka menjadi prioritas utama saya ketika saya berhenti bekerja, dan saya tidak ingin menggesernya lagi dari posisi itu walau saya tetap berusaha mencari tambahan untuk kebutuhan sehari-hari.

Kenapa via internet?

Pertama, saya bokek, hahahaha.. :D. Untuk saat ini belum ada budget untuk kursus di lembaga. Ada sih kawan yang menawarkan mengajari bahasa Arab, kemungkinan sepertinya bisa gratis. Tapi lokasi rumahnya lumayan jauh, saya di Depok, beliau di Tanah Kusir. Selain pastinya harus keluar ongkos, juga menyita waktu yang lumayan banyak untuk perjalanan.

Kedua, sebagai seorang ibu yang mempunyai balita, pergi keluar rumah adalah suatu kegiatan yang harus dipersiapkan dengan matang. Jika anak akan ditinggal, kepada siapa nanti anak-anak akan dititipkan. Memang ada ibu saya, tapi ibu saya juga seringkali ada acara sendiri. Atau ketika ibu saya available, saya tidak tega dan tidak enak menitipkan anak bungsu saya yang masih 2 tahun karena masih sering rewel dan merepotkan. Jika si bungsu dibawa, lebih panjang lagi pertimbangannya. Perjalanan yang jauh seringkali menimbulkan ketidak nyamanan anak-anak. Belum lagi resiko sakit karena sedang musim hujan. Dan bila akhirnya pun sudah selamat sampai tujuan, tidak jadi jaminan kalau saya bisa tenang belajar. Biasa, anak kecil dan lingkungan baru seringkali tidak cocok. Bisa jadi saya hanya sibuk mengurusi anak saya yang rewel dan tidak bisa berkonsentrasi belajar. Jadi tidak bisa tercapai tujuannya.

Ketiga, terus-terang saya penasaran, apakah belajar via internet terutama untuk pelajaran yang materinya banyak dan bertingkat itu benar-benar bisa dilakukan ? Sebenarnya pertanyaannya adalah, apakah bisa dilakukan oleh saya ? :D. Pastinya ada perubahan pola belajar dari sekolah dulu, dari biasa disuapi sekarang harus aktif mencari sendiri. Belum lagi harus disiplin, jika ingin benar-benar berhasil. Honestly, I’m not that great with that discipline thing :(. Tapi pelajaran yang ada di internet terlalu menggiurkan untuk dilewatkan. Apalagi sekarang sudah ada universitas yang bisa mengkonversikan kredit belajar sehingga kita bisa mendapatkan sertifikat/ijazah hanya dengan kuliah online. Universitasnya di luar negri dan bonafide pula. Walaupun pastinya harus bayar juga, namun tidak semahal jika kita kuliah non online. I think it’s really worth to try, don’t you think?

Keempat, saya ingin agar anak-anak tahu, di usia berapa pun juga, kita tidak pernah berhenti belajar. Jika satu hal sudah dipelajari, masih banyak hal lain yang bisa kita pelajari. Bisa jadi saya lebih tahu dari mereka di satu hal, belum tentu di hal lain. Makanya saya tetap belajar untuk hal-hal lain yang saya rasa perlu saya ketahui, dan mereka juga seharusnya begitu.

Harapan saya, semoga kedua hal yang ingin saya pelajari tersebut bisa terlaksana dengan sukses. Amin, amin.. semoga…

foto dari ahmadakbarf.com

What We Did Today!

Standard

Ketika saya sedang berinternet tadi pagi, Aisha duduk di samping saya sembari melihat apa yang sedang saya baca. Tiba-tiba perhatiannya terpaku pada salah satu gambar di No Time for Flashcards, sebuah gambar bunga yang lucu

Cute Paint Sample Art from http://www.notimeforclashcards.com

“Bisa tidak kita buat ini Bunda?” Wuihiihii… bisa dong! rumah berantakan, tunda sebentar. Let’s have fun! 😀

Aslinya, prakarya bunga tempel ini bahan dasarnya adalah kertas sample warna. Itu loh, kalau kita mau membeli cat kan ada buku/kertas yang menampilkan macam-macam pilihan warna cat tersebut. Nah, untuk memanfaatkannya agar tidak dibuang percuma ketika kita sudah tidak membutuhkannya, maka kertas tersebut bisa dibuat prakarya bunga tempel cantik ini. Tapi karena kami tidak punya, maka sebagai penggantinya kami pakai kertas origami. Aisha memilih warna awannya hitam, mendung katanya. Dia juga yang memberi ide agar ditambahkan matahari. Kolaborasi Bunda dan Aisha menghasilkan bunga tempel yang tidak kalah lucunya, he he he… 😀

Prakarya Bunga Tempel Aisha n Bunda

Gampang deh bikinnya. Penasaran? Intip tutorialnya di sini ya…

Acara TV Ramah Anak

Standard

Melihat acara televisi, sebagai orang tua saya merasa perlu untuk membatasi anak-anak dalam menonton acara televisi yang ada. Otomatis dari sekian banyak acara di televisi, ada acara-acara yang menjadi pilihan yang saya rasa cocok di tonton oleh anak-anak. Berikut daftar acara televisi yang sebagian besar (kecuali satu atau dua) pernah saya tonton dan menurut saya ramah anak  :

Trans 7 Spotlite 09.30 Senin-Jumat
Teropong si Bolang 12.30 Jumat
Laptop Si Unyil 13.00 Senin-Jumat
Aku dan Cita-Citaku 13.30 Senin-Minggu
Dunia Binatang 14.00 Kamis-Jumat
Koki Cilik 14.30 Senin-Jumat
Homestay 15.00 Rabu
Buku Saku Asal Usul 15.30 Senin-Jumat
On The Spot 19.00 Senin-Jumat
MNC TV Upin Ipin 05.54 Senin-Minggu
Disney Club : Mickey Mouse Club House 06.00 Senin-Jumat
Disney Club : Handy Many 07.30 & 16.00 Senin-Sabtu
Didi Tikus 18.00 Senin
Shaun The Sheep 18.00 Senin-Minggu
Global TV Deny Manusia Ikan 14.30 Senin-Jumat
Hand Made 15.00 Senin-Jumat
B-Channel Timmy Time 18.15 Senin-Jumat
Timmy Time 17.00 Sabtu-Minggu
Barney and Friends 13.30 Senin-Minggu
Postman Pat 14.30 Senin-Jumat
Junior Master Chef Australia 19.00 Sabtu-Minggu
Dino Dan 17.00 Senin-Jumat
The Adventures of Tintin 14.30 Senin-Sabtu
Shaun The Sheep 17.30 Sabtu-Minggu
Spacetoon Franklin and Friends 10.40 Senin-Jumat
The Magic School Bus 13.20 Senin-Jumat
Finley The Fire Engine* 05.35 Senin-Jumat
Irish the Happy Professor 06.50 Senin-Jumat
Beranda anak Spacetoon 06.50 Minggu
*baru akan tayang 20 Januari 2012

Perkembangan Bobocah : Abdan dan Google Terjemah

Standard

Abdan dan Google Terjemah

Seperti anak-anak seumurannya, Abdan juga menggemari game. Game yang di sukainya adalah game di komputer dan play station. Aku memang tidak keberatan jika Abdan bermain game, tergantung game apa yang dimainkan.

Kebanyakan game-game yang dimainkannya berbahasa inggris. Banyak hal yang dia tidak mengerti, dia sering tanya padaku. Untuk kata-kata yang aku tahu, tentu saja aku jawab. Tapi ada juga kata-kata yang tidak aku mengerti, maka aku mencarinya di kamus. Salah satu kamus yang biasa aku gunakan tentu saja Google Terjemah. Lama-kelamaan, daripada aku yang mencari kata-kata yang dia perlu, akhirnya aku mengajarkan Abdan cara menggunakan Google Terjemah. Hingga saat ini setiap kali dia menemui kesulitan dalam mengartikan kalimat atau kata-kata dalam bahasa inggris, dia tidak serta-merta menanyakan kepadaku, tapi dia cari di Google Terjemah. Dia menjadi lebih mandiri dalam mencari tahu kata-kata atau kalimat yang dia merasa perlu tahu, tanpa perlu aku menjadi perantara. Menurutku keterampilan menggunakan Google Terjemah atau software penterjemah lainnya merupakan salah satu keahlian yang penting dimiliki, jika kita tidak bisa berbahasa inggris. Karena kebanyakan ilmu pengetahuan yang berada di internet  berbahasa inggris, maka otomatis ketika hambatan bahasa bisa teratasi, ilmu pengetahuan yang bisa kita dapatkan akan menjadi lebih luas.

Abdan sudah terbiasa menggunakan mesin pencari Google untuk mencari hal-hal yang ingin dia ketahui. Maka mempelajari Google Terjemah tidak terlalu sulit. Memang kelemahannya hasil terjemahan kalimat dari Google Terjemah seringkali aneh atau berantakan. Maka dari itu, penting untuk mengaitkannya pada konteksnya. Sedikit banyak, ia bisa mengerti apa yang dimaksud. Semoga keahlian Abdan menggunakan Google Terjemah akan terganti dengan keahlian berbahasa inggris 🙂

Terima Kasih Para Sahabat…

Standard

Me n my friends at MUC

Sebuah tas kertas diberikan oleh suamiku. Tas itu berlogo MUC Consulting Group. “Mba Ita yang menitipkan, katanya dari kawan-kawan” kata suamiku. Dengan penasaran aku buka, isinya ternyata seperangkat alat kosmetik. Wow! benar-benar kejutan yang sangat menyenangkan! Sebuah parfum, hand body lotion, sekotak eye shadow dengan warna natural plus sebuah lipstick dengan warna kesukaanku. Alhamdulillah…. rizki memang datang dari arah yang tidak di sangka,  Subhanallah… 🙂

Sebenarnya, yang berkesan bukan hanya fisik alat-alat kosmetik itu. Sejarah dan kenangan dibaliknya menarik kembali ingatanku ke masa sekitar 1 tahun yang lalu.

Dulu aku berkantor di sebuah tempat yang nyaman, penuh persahabatan dan kehangatan. Semua karyawan saling membantu dan menguatkan. Walau seringkali pekerjaan terasa berat, tapi aku merasa tidak pernah kekurangan tangan yang membantu, hati yang menguatkan. Semua siap menawarkan, dari berdiskusi langsung tentang kasus-kasus yang sedang kuhadapi atau  hanya sekedar teman bercanda untuk melupakan sesaat penatnya pekerjaan. Peraturan yang sangat bersahabat bagi ibu hamil dan menyusui, yang masih sangat jarang dimiliki kantor-kantor di Jakarta ini.   Bersyukur sekali sempat berkantor disini.

Tapi memang arah tujuan manusia berbeda-beda. Dan tujuanku membuatku memutuskan untuk mengundurkan diri dari kantorku itu. Keputusan yang berat, menguras emosi dan air mata, karena khawatir akan kehilangan semua hal yang sangat berarti bagiku. Tapi ternyata, persahabatan itu masih erat kurasakan, dan pertemanan tak pernah menguap walau jarang berjumpa.

Terima kasih para sahabat…  semua yang pernah kita alami bersama, semoga selalu menjadi kenangan yang terbingkai indah di hati kita… 🙂