Praktek Masak : Macaroni Schotel

Standard

Karena pesanan kakak Abdan, pagi ini saya membuatkan macaroni schotel untuk bekal makanan sekolah. Ini adalah pembuatan macaroni schotel yang pertama untuk saya. Sebelumnya saya sudah mencari-cari resep di internet dan menemukan resep ini yang sepertinya mudah dan kelihatan yummy. Bahan-bahan sehari sebelumnya sudah saya beli dipasar terdekat. Sebagai pengingat, berikut daftar belanja untuk membuat macaroni schotel :

  • Macaroni elbow 250 gr Rp. 3.500
  • Telur 5 butir Rp. 4.000
  • Keju Craft Cheddar 250 gr Rp. 17.000 (saya pakai kurang 50 gr dari resep)
  • Kornet harganya lupa, krn dibeli ketika belanja bulanan. Nanti saya update lagi
  • Daging giling 100 gr Rp. 7.200
  • Bawang Bombang 1 bh Rp. 1000
  • Pala bubuk saya tidak pakai karena di pasar tidak ada
  • Merica Halus 1 bks Rp. 1000
  • Susu UHT Ultra kemasan 1 Liter Rp. 10.500.

Alhamdulillah macaroni schootel berhasil dibuat, namun ada beberapa catatan yang penting dari praktek masak kali ini:

  1. Bagian dalam macaroni schootel terasa agak hambar, padahal sudah dimasukkan keju yang di potong dadu itu. Jika dimakan berbarengan dengan toping keju, rasa hambarnya tidak begitu terasa. Tapi kalau di makan tersendiri memang lebih terasa hambar. Padahal adonan daging sudah saya cicipi terlebih dahulu dan bumbunya saya rasa cukup, bahkan cenderung lebih asin. Menurut saya, bisa diatasi dengan menambahkan garam ke adonan susu dan keju, atau menambah jumlah keju dan sebaiknya diparut sehingga rasa asin dan gurihnya muncul. Mungkin 2x jumlah yang ada di resep.
  2. Macaroni Schotel menurut saya agak kurang “ngeju”. Jadi mungkin lebih enak lagi jika adonan susunya di campur dengan krim kental. Untuk kejunya sepertinya juga lebih enak jika dicampur antara cheddar dengan parmesan atau edam.
  3. Bagian bawah adonan agak mengerak. Karena saya memakai alumunium foil, jadi bawahnya agak berkerak walaupun macaroninya tidak gosong. Untuk percobaan selanjutnya lebih baik jika dibagian bawah oven di isi dengan loyang berisi air.
  4. Macaroninya lembut dan moist, permukaannya juga tetap empuk kering namun tidak mengeras ketika sudah dingin. Menurut saya ini lebih baik dibandingkan dengan macaroni schotel yang pernah  saya rasakan yang topingnya itu keras dan ketika dingin macaroninya alot seperti karet.
Next, i hope will be better🙂

About Rika

Bunda 3 anak yang mudah-mudahan selalu bersemangat belajar. Sedang hobi memasak, terutama memasak kue. Suka membaca dan menulis. Saat ini, sedang berusaha bergulat menyeimbangkan antara pekerjaan rumah sehari-hari tanpa asisten rumah tangga dan meng-home education-kan ketiga anaknya, Abdan Syakuro, Aisha Ain Al Saba dan Aqilla Ibtihal Imani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s