Monthly Archives: September 2011

Abdan : Belajar Wirausaha

Standard

Sudah lama aku ingin mengajarkan anak-anak tentang berwirausaha. Aku pikir belajar berwirausaha untuk anak-anak bagus karena bisa melatih kemandirian, keberanian dan semangat pantang menyerah. Berwirausaha juga merupakan sarana untuk mempraktekkan pelajaran matematika yang sudah didapat, dari perhitungan sederhana sampai matematika uang. Tentu saja ini akan lebih meresapkan pelajaran yang sudah didapat.

Beberapa waktu yang lalu aku membaca di milis TDA ada seorang anggota yang mengajarkan anaknya berwirausaha dengan berjualan sticker. Aku pikir ini ide bagus, karena berjualan sticker cocok dengan “pasar” anak-anak. Anak-anak banyak yang suka sticker karena lucu dan harganya murah.  Apalagi di dekat rumah ada toko yang khusus berjualan mainan grosir. Aku tawarkan ide ini kepada Abdan, alhamdulillah dia pun menyambutnya. Sebagai modal awal, Ayah ditodong untuk menjadi investor utama. Maka meluncurlah uang pecahan sepuluh ribu dari kantong ayah :). Minggu sore kemarin, kami pun berjalan kaki menuju toko yang dituju untuk membeli sticker.

Abdan belum terlalu hirau tentang memilih sticker. Dia malah asyik memperhatikan mainan yang ada, sambil bercanda dengan adiknya. Aku memilih selusin sticker yang aku anggap bagus untuk anak-anak dan menyodorkan ke Abdan untuk meminta pendapat apakah sticker ini kira-kira disukai temannya atau tidak. Setelah semua sticker dipilih, kami bayar dengan diskon 50% dari harga eceran, karena kami membeli lusinan.

Hari senin, Abdan membawa sticker-sticker tersebut kesekolah. Sebenarnya awalnya dia juga agak ragu, dia bertanya padaku kalau stickernya tidak laku bagaimana. Aku bilang, ya kalau hari ini tidak laku, besok di bawa lagi, besok tidak laku ya besoknya dibawa lagi… hehehe… jangan menyerah. Target kali ini hanya sekedar memupuk keberanian menawarkan sticker kepada teman-temannya.

Pulang sekolah, aku penasaran dan menanyakan kepada Abdan bagaimana jualan stickernya. Dia hanya bilang kalau stickernya belum laku, karena teman-temannya tidak membawa uang. Oh iya, aku lupa kalau kebanyakan teman Abdan masih dibekali makanan dari rumah, jarang yang dibekali uang, termasuk juga Abdan. Abdan bilang, besok teman-temannya akan membawa uang.

Hari ini, stickernya di bawa lagi. Seperti kemarin, sepulang sekolah aku juga menanyakan bagaimana jualan stickernya. Ternyata oh ternyata… Alhamdulilah stickernya tinggal sisa 2 buah. Besok temannya ada yang mau beli lagi karena hari ini dia tidak membawa uang. Abdan bersemangat dan sore ini ingin belanja sticker lagi. Hehehe… sukses besar nih ^_^

Advertisements

Praktek Masak : Macaroni Schotel

Standard

Karena pesanan kakak Abdan, pagi ini saya membuatkan macaroni schotel untuk bekal makanan sekolah. Ini adalah pembuatan macaroni schotel yang pertama untuk saya. Sebelumnya saya sudah mencari-cari resep di internet dan menemukan resep ini yang sepertinya mudah dan kelihatan yummy. Bahan-bahan sehari sebelumnya sudah saya beli dipasar terdekat. Sebagai pengingat, berikut daftar belanja untuk membuat macaroni schotel :

  • Macaroni elbow 250 gr Rp. 3.500
  • Telur 5 butir Rp. 4.000
  • Keju Craft Cheddar 250 gr Rp. 17.000 (saya pakai kurang 50 gr dari resep)
  • Kornet harganya lupa, krn dibeli ketika belanja bulanan. Nanti saya update lagi
  • Daging giling 100 gr Rp. 7.200
  • Bawang Bombang 1 bh Rp. 1000
  • Pala bubuk saya tidak pakai karena di pasar tidak ada
  • Merica Halus 1 bks Rp. 1000
  • Susu UHT Ultra kemasan 1 Liter Rp. 10.500.

Alhamdulillah macaroni schootel berhasil dibuat, namun ada beberapa catatan yang penting dari praktek masak kali ini:

  1. Bagian dalam macaroni schootel terasa agak hambar, padahal sudah dimasukkan keju yang di potong dadu itu. Jika dimakan berbarengan dengan toping keju, rasa hambarnya tidak begitu terasa. Tapi kalau di makan tersendiri memang lebih terasa hambar. Padahal adonan daging sudah saya cicipi terlebih dahulu dan bumbunya saya rasa cukup, bahkan cenderung lebih asin. Menurut saya, bisa diatasi dengan menambahkan garam ke adonan susu dan keju, atau menambah jumlah keju dan sebaiknya diparut sehingga rasa asin dan gurihnya muncul. Mungkin 2x jumlah yang ada di resep.
  2. Macaroni Schotel menurut saya agak kurang “ngeju”. Jadi mungkin lebih enak lagi jika adonan susunya di campur dengan krim kental. Untuk kejunya sepertinya juga lebih enak jika dicampur antara cheddar dengan parmesan atau edam.
  3. Bagian bawah adonan agak mengerak. Karena saya memakai alumunium foil, jadi bawahnya agak berkerak walaupun macaroninya tidak gosong. Untuk percobaan selanjutnya lebih baik jika dibagian bawah oven di isi dengan loyang berisi air.
  4. Macaroninya lembut dan moist, permukaannya juga tetap empuk kering namun tidak mengeras ketika sudah dingin. Menurut saya ini lebih baik dibandingkan dengan macaroni schotel yang pernah  saya rasakan yang topingnya itu keras dan ketika dingin macaroninya alot seperti karet.
Next, i hope will be better 🙂