Monthly Archives: July 2011

Perkembangan Bobocah

Standard

Aqilla

Aqilla di umur 21 bulan ini, sudah bisa mengucapkan beberapa kata untuk menunjuk kepada orang/benda. Diantaranya :

Aisha = Ais

Abdan = Abdah

Syamil = Amih

Susu = Su

Bunda = Na

Ayah = Ayah

Buku = Bobo (jauh amat ya!)

Minum = Numno

Aqilla juga sudah mengerti perintah. Mengambil susu sendiri, membuang sampah ke tempat sampah, membuang popok bekas pakai ketempat sampah dan menaruh pakaian kotor sebelum mandi ke mesin cuci adalah beberapa perintah yang sudah bisa dikerjakan. Aqilla juga bisa menolak “ga mau” ketika dia diminta melakukan sesuatu, atau tidak mau makan. Menurutku perkembangannya yang paling lucu dan menyenangkan adalah jika diberi sesuatu sudah bisa berkata “siiihhh” alias terima kasih tanpa harus diingatkan :D. Walaupun ini belum konsisten.

Aisha

Di usia 4 tahun ini Aisha sudah mengenal banyak huruf dan angka. Penambahan sederhana dengan jari tangan juga sudah bisa. Dia sangat tertarik dengan memasak, pekerjaan rumah, seperti mencuci piring dan menyapu. Tapi cooking time merupakan waktu favoritnya. Iqronya sudah sampai Iqro 2, namun latihan membacanya masih belum rutin. Perkembangan Aisha yang paling membahagiakan dan membuat haru menurutku adalah perkembangan sosialnya. Subhanallah dia sangat sayang sekali adiknya. Dia tahu bahwa adiknya itu harus dijaga. Maka jika adiknya main keluar rumah, dia tidak pernah membiarkannya sendirian. Kalau Aisha ingin main di dalam rumah, adiknya akan ikut dibawa ke dalam rumah. Kalau adiknya tidak mau, maka Aisha akan mengadu kepadaku, “Bunda, itu gimana Aqilla ga mau masuk, nanti kalau ada yang culik gimana?”

Aisha juga rajin sekali momong adiknya, bahkan tanpa disuruh. Kalau aku sedang repot di dapur, lalu Aqilla menyusul juga ke dapur, maka Aisha akan mengajak adiknya bermain, mengalihkan adiknya agar tidak mengganggu aku didapur. Sehari-hari Aisha dekat sekali dan senang bermain dengan adiknya. Bahkan ketika Aqilla menangis karena baru bangun tidur maka Aisha akan lebih dulu menghampiri adiknya, sambil mengambil posisi mengeloni adiknya. Maka kata favorit yang seringkali di ucapkan Aqilla adalah “Ais.. Ais..” Bukan tidak pernah sih mereka bertengkar. Penyebabnya seringkali karena berebut mainan. Namun kedekatan Aisha dengan adiknya adalah salah satu hal yang sangat ku syukuri.

Abdan

Abdan di usia 7 tahun, sekarang sudah naik kelas 2. Salah satu hobinya yang paling disukai selain main game adalah mengerjakan craft, terutama origami. Ketertarikannya kepada Bahasa Inggris juga sangat terlihat. Dia sering bertanya tentang arti kata-kata dalam Bahasa Inggris, pronunciationnya juga sudah lumayan baik. Dan memang dia bilang terus terang bahwa dia menyukai Bahasa Inggris. Bila ada kalimat dalam Bahasa Inggris yang dia tidak mengerti, biasanya dalam game yang dia mainkan, dia sudah bisa mandiri mencari artinya di Google Terjemah. Tapi dia masih belum mau untuk diajak berbicara Bahasa Inggris di rumah. Walaupun begitu, sedikit-sedikit dia sudah bisa mengerti kalimat dalam Bahasa Inggris. Abdan juga mudah sekali diberi pengertian dan tipe penurut. Sudah mulai dibiasakan untuk mencuci piring bekas makannya sendiri, membantu pekerjaan rumah dengan membuang sampah secara rutin tiap hari. Abdan juga menjadi tangan kananku untuk urusan belanja ke warung. Walaupun dia masih belum terlalu paham nilai uang. Maksudnya jika belanja sekian dengan uang sekian, kembalinya berapa itu dia masih sering bingung. Maklum, Abdan jarang jajan, jadi jarang “pegang” uang. Dia sudah mengerti bahwa ada makanan yang baik dan ada yang mengandung zat yang tidak baik untuk badan, dan dia patuh untuk tidak memakannya, kecuali potato chips hihihihi… :D. Abdan juga sayang adik-adiknya dan mau memomong adik-adiknya, walaupun belum berinisiatif seperti Aisha. Abdan juga sudah bisa menjadi imam sholat untuk adik-adiknya, dan bisa diminta tolong untuk mengajarkan kepada adiknya hal-hal yang dia sudah tahu lebih dulu. Misalnya tadi aku minta Abdan untuk mengajarkan Syamil cara berwudhu. Tapi memang Pak Guru Abdan masih perlu di latih untuk bersabar dalam mengajar :D.  Menurutku perkembangan Abdan yang menyenangkan adalah sifat kritis dan rasa ingin tahunya yang tinggi. Seringkali dia bertanya banyak pertanyaan dan beberapa bahkan tidak bisa aku jawab karena memang belum tahu. Untung ada oom Google yang selalu siap membantu menjawab segala pertanyaan. So, bersama-sama kita cari di Google jawabannya.

Advertisements

Ke Toko Buku Bekas ^_^

Standard

Kemarin anak-anak berjalan-jalan ke toko buku bekas. Kebetulan letaknya tidak jauh dari rumah, jadi kami berjalan kaki kesana. Aku senang sekali pergi ke toko buku bekas. Memang hobiku “ngoprek” buku, entah di perpustakaan, toko buku atau toko buku bekas. Sedihnya di Depok ini belum ada perpustakaan besar yang ramah anak. Makanya salah satu doa dan pintaku adalah sebelum berakhir kepemimpinan walikota depok sekarang, mudah-mudahan perpustakaan ini sudah ada. Aminnn….

Anak-anak boleh memilih masing-masing 2 buku yang disukai. Aisha memilih majalah Playhouse Disney seharga Rp. 5000 dan buku cerita Bob the Builder seharga Rp. 7000. Aku memilihkan untuk Aqilla sebuah board book berjudul Mainan Bayi Mickey seharga Rp. 7000. Yang agak susah memilih adalah Abdan, karena setiap buku dia baca dulu satu persatu, ternyata banyak yang tidak sesuai dengan seleranya. Sambil menunggu anak-anak memilih, aku juga asyik mengoprek buku yang ada. Eh, aku menemukan buku homeschooling terbitan MLC berjudul Ibuku Guruku, karangan Marty Layne seharga Rp. 15.000. Wah, buku bagus nih  untuk aku yang masih butuh banyak referensi tentang homeschooling. Mudah-mudahan buku versi terjemahan ini enak dibaca.

Setelah disodorkan beberapa buku, akhirnya Abdan memilih 2 buku tentang ruang angkasa dan kendaraan angkasa luar. Buku ini ternyata bukan buku bekas, karena bentuknya masih mulus dan berplastik. Harganya pun lebih mahal karena masing-masing Rp. 15.000. Tapi kualitas gambar didalamnya bagus. Seperti gambar-gambar di buku ensiklopedia.

Total belanja kami Rp. 57.000 setelah di kurangi diskon. Alhamdulillah, murah meriah hehehe… sesuai dengan prinsip ibu hemat ^_^. Oh iya, salah satu tempat yang menjual buku murah adalah lapak online milik temanku, Smartoys Mainan Anak. Selain menjual mainan anak-anak yang lucu dan murmer, buku anak yang dijualnya pun murah sangat. Padahal semua buku baru lho… harganya sama dengan harga buku bekas. Betul-betul hemat beneran. Makanya yang ini juga mendukung prinsip ibu hemat, hehehe…

Pembelajar Mandiri

Standard

Karena sering membaca blog rumah inspirasi, konsep tentang pembelajar mandiri menjadi konsep yang sangat menarik bahkan sekarang menjadi salah satu tujuan dalam belajar kami. Menurutku orang-orang yang seperti ini merupakan orang-orang yang istimewa dan tangguh. Aku juga sudah pernah bertemu dan “berteman” dengan orang seperti ini. Subhanallah aku merasa sangat beruntung mengenalnya. Sampai sekarang pun ilmu yang dipunyai dan sengaja ditularkannya belum semua berhasil aku serap.

Anak-anak pun sudah mulai diajarkan untuk berusaha mencari tahu hal-hal yang ingin diketahuinya sendiri. Yang terlihat sudah mulai bisa menerapkan ini tentu saja Abdan, karena sudah bisa membaca dan berinternet. Walaupun untuk berintenet tentang hal-hal yang baru masih harus didampingi. Seringkali dia menanyakan arti kata-kata dalam Bahasa Inggris, maka aku memperkenalkannya dengan Google Terjemah. Selain untuk melatih menggunakan kamus online, juga kadang-kadang kata-kata yang ditanyakannya aku juga belum tahu. Untuk mempermudah anak-anak mengakses, aku taruh shortcut Google Terjemah ini di browser yang biasa kami pakai.

Pernah juga Abdan menanyakan arti kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Akhirnya aku mengunduhkan untuknya Kamus Besar Bahasa Indonesia versi offline. Untuk hal-hal yang dia ingin tahu lainnya, tentu saja Google menjadi mesin pencari andalan.

Mudah-mudahan nantinya anak-anak bisa menjadi pembelajar mandiri. Karena segala sesuatu menjadi tak mustahil untuk dikuasai bila kita memiliki kualitas seorang pembelajar mandiri.

Batita Bookaholic

Standard

Dirumah sebisa mungkin kebiasaan membaca selalu dilestarikan. Setidaknya satu kali dalam sehari anak-anak boleh memilih buku dan membacanya. Untuk Aisha yang belum bisa membaca, setelah dia memilih buku yang disuka, lalu aku membacakannya. Sambil tiduran, kegiatan membaca menjadi menyenangkan dan santai.

Karena kakak-kakaknya selalu begitu, Aqilla (21 bulan) juga selalu “ikut-ikutan” melakukannya. Alhamdulillah, one of the advantages of having more than one kid adalah adik-adiknya selalu mengekor apa yang dilakukan kakak-kakaknya. Maka bagaikan mengangon bebek, yang di perlukan adalah mengendalikan kakak tertua and the others will follow, hehehehe…. 😀

Seringkali Aqilla mengajak aku untuk “bobo… bobo..” tapi menarik tanganku ke ruang buku. Lalu dia mengambil satu buku, dan mengajakku ketempat tidur dan membaca. Hihihi…. sudah keranjingan buku diumur yang begitu belia. Watch out! a batita bookaholic in da house! ^_^

Love Origami

Standard

Anak-anak suka sekali origami. Maka dari itu, kertas origami hampir selalu ada di rumah kami. Menurutku origami merupakan aktivitas yang bagus dan menyenangkan untuk merangsang kreativitas dan imajinasi anak. Dan yang paling membahagiakan bagi aku, ibu-ibu yg hemat (bukan pelit!) ini adalah, kertas origami murah! hihihihi…. Ditoko ATK langganan kami kertas origami warna-warni berisi 100 lbr hanya Rp. 6000.

Biasanya mereka membuat origami dengan mencontoh dari buku atau melihat di internet. Dibawah adalah beberapa foto origami kreasi Abdan. Origami yang dibuat dengan melihat video tutorialnya di youtube diantaranya adalah origami kupu-kupu dan shuriken, sedangkan origami gajah dan pensil dihasilkan dengan melihat contoh di buku. Akhirnya karena sering berlatih, Abdan bisa membuat origami hasil kreasinya sendiri. Origami meja salah satunya. Pengakuannya sih… “Kakak ga sadar buat origami ini” Hahaha.. buatnya sambil pingsan kali ya kak?

Kutu!

Standard

Ternyata anak-anak berkutu! Tanpa sadar tertular dari asisten RT tantenya. Kok bisa sih? kami kan tidak tinggal serumah. Iyalah.. kan mereka sering sekali menginap di rumah tantenya.

Setelah berburu obat kutu, akhirnya malam ini menjadi malam pembasmian kutu. Semoga tamu tak diundang ini tidak akan balik lagi 🙂
basmi kutuobat kutu

Cara Mengajarkan Problem Solving ke Anak (pertanyaan di Grup Indonesia Homeschooler)

Standard

Pertanyaan dari Mba Dini Dyah Lestari :

Hai teman2, saya mau nanya nih, gimana ya cara mengajarkan anak ttg “Problem solving”? mungkin dalam bentuk permainan ato praktek langsung, untuk anak usia 8 th. terima kasih 🙂

Jawaban dari Mba Mirza Dewi Yanti :

Hai mbak Dini, saya tertarik sharing tentang pertanyaan mba dibawah ini. Mudah-mudahan bisa bermanfaat.

Problem solving menurut saya lebih efektif kalau bisa diterapkan dalam pola asuh anak. Karena problem solver ini adalah karakter yang musti dibangun secara berproses dan bertahap, dan dilatihkan dari pengalaman hidupnya sehari-hari. Pola asuh yang bisa diterapkan untuk membangun karakter tersebut diantaranya:

1. Anak dilibatkan dalam mengambil keputusan terutama segala hal yang menyangkut dirinya. Seperti misalkan menu makanan di rumah, apa yang mau di pelajarinya, mau ngapain dia hari itu, les apa yang mau diambilnya dan cat warna apa yang ingin dipilihnya untuk kamarnya. Hargai dan dukung keputusan-keputusan anak tersebut sepenuhnya.

2. Lihat dan fokus selalu pada hal-hal positif yang dilakukannya. Kemajuan sekecil apapun pada anak, terima dan puji dia. Ortu sebaiknya heboh pada hal yang positif dari anak ketimbang hal negatifnya. Jangan kita sibuk melihat kekurangan anak. Anak yang selalu melihat hal positif dalam dirinya akan berusaha menjadi seorang problem solver. Sebaliknya, anak yang melihat hal-hal negatif di dirinya akan selalu lari dari masalahnya. Dia akan tergantung orang lain untuk membantunya menyelesaikan masalahnya. Karena selalu menganggap dirinya tidak punya kemampuan dan keberanian mengurus urusannya.

3. Anak boleh salah. Ketika dia mengambil pilihan yang salah dan menerima resiko kesalahannya, biarkan saja. Ijinkan dia untuk salah. Karena dengan kesalahan dia jadi belajar bagaimana untuk tidak salah lagi. Sebagian anak ada yg melakukan kesalahan yg sama berulang-ulang. Itu juga tidak apa-apa karena setiap anak berbeda. Cara belajarnya juga beda-beda. Salah itu ok, dan sumber belajar yang baik. Karena banyak orang-orang yang sukses ternyata mereka sebelumnya mengalami kegagalan berkali-kali.

4. Ortu hendaknya bersabar dan memahami anak, juga jangan heboh dengan kesalahannya. Lebih efektif anak diajak ngobrol apa yang terjadi tadi dan kira-kira apa yang didapatinya dr peristiwa tersebut.Hargai juga hak anak jika dia sedang tidak ingin menceritakan masalahnya. Bisa jadi dia lagi butuh kontemplasi diri dari pengalamannya itu. Ketika anak sudah siap bercerita, maka disitulah kita jadi pendengar yang baik.

5. Jadilah pendengar yang baik. Ketika anak sedang menceritakan masalahnya, terkadang dia tidak butuh kita sebagai pencari solusi masalahnya. Dia hanya butuh didengarkan apa yang ingin dia sampaikan ttg masalahnya. Ketika didengarkan dengan efektif, anak merasa dipahami dan diterima perasaannya. Ini menjadi energi baru untuk menemukan dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

6. Penuhi hidupnya dengan kata-kata positif termasuk tentang dirinya, hindari kata-kata negatif dan pandangan-pandangan negatif. Karena dengan kata-kata positif tersebut konsep diri anakpun akan terbentuk positif. Ini modal yang baik untuk menjadi seorang problem solver.

7. Beri anak tanggung jawab yang berhubungan dengan keluarganya ataupun rumah, sesuai tahapan perkembangan usia. Misalkan menjaga adik, memeriksa kunci rumah dan jendela, menyiapkan teh untuk ayah sepulang kantor, membuang sampah dsb. Untuk memintanya bertanggung jawab, hendaknya dibangun kesadarannya dulu. Libatkan juga pendapatnya tentang permasalahan yang terjadi di rumah. Bagaimana anak merasa menjadi bagian dari penghuni rumah dan turut serta mengurus rumah bersama-sama anggota keluarganya yang lain. Seorang problem solver adalah orang-orang yang bertanggung jawab dengan pihak-pihak di sekelilingnya.

Sekian dulu sharing saya mbak Dini. Semoga membantu.