Berhenti Diam!

Standard

Apa sih susahnya berbicara?

Daripada ku harus menerka

Lalu bila aku salah

Kamu juga yg meluapkan amarah!

 

Buat apa sih diam saja?

Kan tidak menyelesaikan masalah

Lalu ketika ku coba bertanya,

Muka enggan penuh kesal suguhannya

 

Kalau memang tak mau aku peduli

Ya bilang saja, aku pun akan mengikuti

Kamu mau apa,

Ku kan berusaha memenuhinya

 

Tidak perlu diam

Diam hanya menusuk perasaan

Atau memang itu tujuanmu

Semata untuk menyakiti hatiku?

Depok, 15 Sept 2016 di 23.00

 

 

 

 

I Choose

Standard

Begitulah…

Setiap pulang, tak bersisa senyuman

Mungkin telah habis

Di hirup rekanan sejawat

Atau kemacetan sepanjang jalan

Tampang lelah lusuh masam

Suguhan harian

 

Begitulah…

Tidak ada waktu berbincang

Pun sejenak menyapa

Dari tiba hingga tidurnya

Hanya tersisa 1-2 jam saja

Layar HP saingan utama

Apalah aku dibanding daya tariknya

 

Sudah tak ingin ambil pusing

Tak kebagian senyum, no problem

Tak kebagian waktu, i don’t care

Ku kerjakan yg perlu dikerjakan

Lalu menyingkir krn aku tak di butuhkan

 

Tak perlu bersulit-sulit

Memikirkan bersakit-sakit

Harapan itu ya bunuh saja

Toh hanya mengecewakan pula

Mari belajar dari yang lalu-lalu

Akan selalu begini, walau ku coba supaya jadi begitu

Lelah juga berusaha sendiri

Tanpa sambutan yang berarti

 

So, I choose not to care

I choose not to care!

 

Depok, 15 Sept 2016 di 22.40

 

[moments] Pelukan Itu, Nak…

Standard

JpegPeristiwa yang bikin nyessss hati itu digariskan Allah terjadi hari ini.

Saya bangun sebelum subuh untuk menyiapkan sahur kakak Abdan. Alhamdulillah ini sudah hari ke-4 Abdan puasa syawal. Dia puasa sendiri tidak ada yang menemani. Adik-adiknya belum pernah puasa sunnah karena masih terlalu kecil. Saya sedang haid, otomatis tidak bisa ikutan. Alhamdulillah ada satu teman sekolahnya yang puasa syawal juga.

Saya membawa sepiring nasi dgn lauk telur ceplok goreng + teh hangat menuju kamar anak-anak.

“Ka, bangun.. sahur dulu” sambil menyodorkan piring nasi dan teh. Abdan langsung bangun, seraya melihat menu sahur yang dibawakan untuknya. “Sini deh bunda..” dia meminta saya mendekat. Saya mendekat lalu duduk disampingnya. Dia lalu memeluk sambil berkata, “Terima kasih ya bun..”  nyesssss… hangat rasanya hati ini… #emakmewek “Sama-sama kakak, Bunda doain supaya kakak selalu bertaqwa dan jadi anak sholeh” #sambilnahanmewek

This is one of precious moments yang terjadi di kehidupan emak-emak. Salah satu momen yang bikin pe-de, ternyata ada lah sesuatu yang rasanya sudah bener gitu dalam mendidik anak. Tambahan lagi karena saya yang menghandle anak-anak dirumah sehari-harinya, ge-er gitu kalau itu adalah hasil jerih payah saya. Sungguh berbeda rasanya ketika anak-anak masih lebih banyak di handle neneknya dulu ketika saya masih kerja. Rasanya kalau ada sesuatu yang baik yang dilakukan anak-anak rasanya kreditnya itu lebih pantas buat neneknya, karena saya tahu neneknya lebih memegang peranan dalam sehari-harinya anak-anak.

Sekali lagi nyesss emak-emak karena moment semacam itu memang rizki yang tak ternilai dari Allah. Sungguh-sungguh selalu merindukan moment seperti itu sepanjang hayat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tattimush shalihat😊

Selipan Cinta Post-it

Standard

Beberapa hari ini saya sedang mencoba satu cara katakan cinta. Cara yang lebih eksplisit untuk menyatakan rasa sayang kepada anak-anak. Tapi sebenarnya tujuannya tidak hanya sekedar rasa sayang dan cinta saya. Harapan saya juga memupuk rasa cinta dan sayang kami kepada Allah dan Rasul-Nya.

JpegSetiap hari, saya harus menyiapkan bekal sekolah untuk anak-anak. Di tempat makan masing-masing anak saya tempelkan pesan tulisan tangan saya, sebagai surprise buat anak-anak. Tulisan itu ditulis di kertas post-it sehingga lebih mudah di tempel. Tadinya saya hanya ingin menuliskan sesuatu tentang mereka saja, apa yang mereka akan pelajari hari itu, atau sesuatu tentang apa yang terpikir saat itu tentang anak-anak. Tapi saya ingat, di facebook saya sering bersliweran hadist-hadist yang diposting oleh islampos. Banyak hadist yang di posting hadist-hadist yang sudah sering saya baca, hadist-hadist yang populer. Tapi ada hadist-hadist yang baru saya baca dari posting islampos tersebut, hadist-hadist yang jarang beredar. Setiap saya temukan hadist yang semacam itu saya simpan dalam bentuk foto capture. Cita-cita saya ingin membuat hiasan di rumah yang berisi hadist-hadist tersebut. Saya pikir, salah satu cara saya menyampaikan ajaran rasulullah bisa melalui pesan post-it tersebut dengan menuliskan hadist tersebut beserta pesan cinta saya.

Pesan post-it kepada Aisha ttg berenang

Pesan post-it kepada Aisha ttg berenang

Jadi setiap hari saya tuliskan hadist yg ingin saya sampaikan di pesan post-it tersebut. Setiap anak mendapat pesan yang berbeda. Kadang berkaitan dgn agenda pelajaran anak-anak hari itu. Misalkan ketika Aisha ada jadwal berenang di sekolah, maka saya tuliskan tentang sunnah rasulullah tentang berenang. Atau bisa juga ketika saya temukan hadist yang menarik, maka saya tuliskan tentang hadist tersebut.

JpegReaksi anak-anak? Ada hari ketika mereka berkata mereka senang membaca pesan post-it tersebut, bahkan berusaha untuk melakukannya. Seperti ketika saya menuliskan tentang salah satu cara bersyukur kepada Allah dengan diberi rizki makanan adalah dengan berbagi, Abdan melakukannya dengan membagi bekal snack-nya kepada teman-temannya, sedangkan Aisha berusaha bersyukur dengan menghabiskan makanannya dan tidak menyisakannya karena tidak mau membuang makanan. Ada hari juga ketika mereka sama sekali tidak bercerita apa-apa tentang pesan post-it.

Harapan saya, semoga saya berhasil “menyentuhkan” ajaran Allah dan Rasulnya kepada anak-anak, seraya menyemangati untuk menerapkannya di kegiatan sehari-hari mereka.

Curhat kepada Allah ya nak..

Curhat kepada Allah ya nak..

[moments] Kuburan dan Sholat Subuh di Musholla

Standard

Jika akan ke musholla dekat rumah, Abdan biasanya melewati kompleks kecil kuburan keluarga milik tetangga kami. Di kompleks kuburan ini ada sekitar +/- 10-15 kuburan. Letaknya persis dibelakang rumah kami. Jadi, kalau kami membuka pintu belakang, sudah terlihat pemandangan kuburan-kuburan tersebut. Terus terang seumur hidup saya tinggal disini, tidak pernah saya temui kejadian yang aneh-aneh. Walaupun seingat saya semasa kecil kalau saya melewatinya, sering saya tergesa berlari, karena saya takut mendengar cerita ini itu tentang kuburan tersebut dari teman-teman. Atau seringkali sepulang mengaji sore bareng teman-teman, kami lari serempak ketika melewati kuburan tersebut. Kalau sekarang sih, hampir tiap malam buta mesti ke dapur, yg letaknya temboknya bersebelahan persis dgn kompleks kuburan tersebut, untuk mengambil susu Aqilla. Bahkan orang dewasa pun agak enggan lewat jalan tersebut kalau malam, lebih memilih melewati jalan raya untuk ke musholla, walaupun jadi lebih jauh. Yah.. image kuburan lah yaa…

Makanya saya agak terkesima ketika Abdan selalu sholat berjama’ah di musholla melewati jalan tersebut. Entah sholat ashar, magrib, isya bahkan subuh, Abdan berjalan ke musholla. Kadang bersama ayahnya jika ayahnya sudah pulang kerja, atau sendirian. 2 hari berturut-turut kemarin karena ayahnya sedang ke luar kota, abdan berjalan sendirian ke musholla untuk sholat subuh berjama’ah.

Memang saya tidak pernah cerita apa-apa tentang kompleks kuburan itu, jadi abdan ya ga tahu apa-apa. Ya memang ga pernah ada apa-apa juga 😀. Kebetulan juga disini anak seumuran abdan sedikit sekali dan Abdan tidak mengaji di musholla dekat sini, jadi dia juga hampir tidak pernah mendengar cerita apa-apa dari kawan-kawan dirumah. Padahal masih sering saya dengar derap kaki anak-anak tetangga berlari karena ketakutan ketika melewati jalan itu jika mereka akan pergi ke musholla untuk mengaji.

Masya Allah, Alhamdulillah… salah satu rejeki yang patut disyukuri.

[Moments] Rutinitas Aqilla

Standard
salah satu lembaran rutinitas

salah satu lembaran rutinitas

Sebenarnya rutinitas Aqilla sudah berjalan beberapa minggu ini, bersamaan dengan berlakunya program rutinitas untuk kakak-kakaknya. Tapi saya belum sempat membuat daftarnya. Setelah membuat untuk kakak-kakaknya, ketika itu tidak cukup waktu untuk membuat daftar rutinitas untuk Aqilla. Tanpa daftar rutinitas, terlihat Aqilla kurang menyadari apa-apa yang seharusnya dilakukan sehari-hari.  Mudah-mudahan dengan daftar Rutinitas Harian, Aqilla lebih semangat melakukan rutinitas sehari-hari.