Ada buku yang menarik perhatian saya ketika berkunjung ke toko buku bekas beberapa waktu lalu. Sebuah buku puisi terbitan tahun 1979 berjudul “Puisiku, Duniaku Kumpulan Puisi dan Lukisan Karya Anak-anak”. Buku ini diterbitkan dalam rangka menyambut Tahun Internasional Anak-anak 1979, di susun oleh Eka Budianta dan Susianna Darmawi.
Menurut saya buku ini unik. Yang pertama karena umurnya yang 33 tahun, persis seumuran dengan saya. Betapa tua buku ini. Setua saya, ha ha ha..
. Tentunya sudah banyak tangan yang memegang, mata yang membaca dan hati yang terhibur olehnya.
Puisi didalamnya ada yang membuat saya takjub, ada yang lucu ada pula yang sepertinya sudah ter”sepuh” pesan sponsor. Masing-masing mempunyai sentuhan keunikan tersendiri.
Satu puisi yang cukup membuat saya takjub adalah puisi karya M. Ridha Azhari Massir berikut :
SETITIK EMBUN
Setitik embun di ujung daun
kemilau memantul mentari pagi
Maka datanglah bayu menghimbau
Meneteslah ia
ke mana
ia pun tak tahu
Sejemput rumput menadahnya
kering-kerontang dibakar kemarau
Namun titik embun membasahinya
Maka dari rumput kering
yang dibasahi titik embun
serta rahman-Nya Sang Pencipta
tersembullah setitik rumput hijau
Suatu yang baru
di dalam lingkaran hidup yang berantai ini
Dan itulah kami
-M. Ridha Azhari Massir, 11 tahun-
Menurut saya rangkaian kata yang dipilihnya cukup melebihi umurnya. Menakjubkan…
Ada lagi dua puisi yang saya suka :
TUHAN
Aku ingin melihat
Tetapi tak dapat
Aku ingin berjumpa
Tetapi tak bisa
Aku tak pernah melihat
Aku tak pernah berjumpa
Tetapi aku percaya
Tuhan ada
-Yusak S., kelas 4 SD-
DOA
Kuangkat tangan
kupejamkan mata
kubuka hati ini
kupinta Tuhan
menunjukkan jalan
-Salisati Saan, kelas 6 SD-
Yang ini, lucu
:
KENAPA AKU NANGIS?
Ibu bilang aku cengeng
Ayah bilang aku cengeng
Mereka tak tahu
Kenapa aku nangis
Bukuku dirusak kucing
-Susi Sudiarto, kelas 3 SD-
RAMBUT
Kau penghias kepala
Mahkota setiap manusia
Tapi sayang, sekarang tak ada kau
Karena aku telah dicukur
-M. Syafei, 10 tahun-
PEMBAGIAN RAPOR
Hari ini rapor di bagikan
Hatiku dag-dig-dug tidak keruan
Bagaimana nilai prestasiku tahun ini?
Burukkah?
Baikkah?
Acara pun memuncak – aku dipanggil guru
Layaknya kucing hendak menerkam tikus
Lalu aku pun maju
Tangan gemetar, keringat keluar
Kuintip rapor pelan-pelan
Oh Tuhan, ingin rasanya aku pingsan
Dua buah angka merah tersenyum padaku
-Leny Mediawati, 11 tahun-
Yang ini, membuat saya berpikir, bagaimana kabar ayahnya sekarang. Penulis puisi cilik ini, sekarang umurnya sekitar 45 tahun :
DOA DI HARI ULANG TAHUNKU
Yesus di surga
Aku tak minta yang mahal-mahal pada-Mu
Di hari jadiku yang ke – 12 ini
Hanya sebuah permintaan, Yesus
Sembuhkanlah ayahku
dari sakit kuningnya yang berlarut-larut
Aku akan bahagia sekali, Yesus
Andai Kau mau mengabulkannya
Terima kasih Yesus
Amin
-Ratnawati S., 12 tahun-
Membaca yang ini, memori langsung terbang ke masa lalu. Memang, kharisma pemimpin ini sampai juga ke anak-anak ya, atau karena tidak ada presiden selain beliau waktu itu? Ha ha ha…
BAPAK SOEHARTO
Pangkatmu sangat tinggi
Yaitu menjadi presiden
Padahal dulu engkau anak desa
Berkat cita-citamu yang tinggi
Engkau berhasil menjadi presiden
Isterimu bernama Ibu Tien
Yang kalau Pak Soeharto pergi
Selalu ikut serta
Jangan marah Bapak dan Ibu Presiden
Kalau tersinggung hatinya
Dan jangan marah kepada saya
Ini hanya sebuah puisi belaka
Yang saya kirimkan
-Frandhy Dwi Hilmar, kelas 5 SD-
Terakhir, yang masih relevan dengan kondisi sekarang, walaupun 3 dekade telah berlalu :
PUNGLI
Namamu begitu pendek
Sependek keberanianmu terhadap Opstib
Engkau penghambat lajunya pembangunan
Engkau penghalang tercapainya kemakmuran
Pergi, pergi!
Pergilah engkau dari negeriku
Indonesia tercinta.
-Erwin Rosyadi Hs., kelas 6 SD-
Sungguh, menemukan buku ini seperti bertemu dengan harta karun
.





